Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hormuz Lumpuh, Inggris Hanya Punya Stok Makanan Tiga Hari

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 2 April 2026 | 21:57 WIB
Kapal-kapal Tanker di Selat Hoemuz. (Getty Images)
Kapal-kapal Tanker di Selat Hoemuz. (Getty Images)

 

 

LombokPost - Penutupan Selat Hormuz mulai menunjukkan dampak nyata, bukan hanya pada energi global, tetapi juga pada rantai pasok pangan dan obat-obatan di Eropa. Inggris menjadi salah satu negara yang paling mengkhawatirkan efek domino ini, terutama jika krisis berkepanjangan.

 

“Semua taruhan bisa runtuh,” kata pakar sistem pangan dari City St George’s University, Prof Tim Lang, menggambarkan potensi gangguan besar terhadap pasokan makanan akibat lonjakan harga energi.

 

Selat Hormuz adalah jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Ketika jalur ini terganggu, efeknya menjalar cepat ke sektor lain. Biaya bahan bakar melonjak. Transportasi pangan terganggu. Produksi pertanian ikut terpukul karena pupuk dan energi menjadi mahal.

 

Dalam skenario dua minggu pertama, dampak mulai terasa dari harga. Inflasi pangan diperkirakan melonjak tajam.

“Inflasi harga makanan di Inggris bisa dua kali lipat,” ujar Lang.

Baca Juga: Trump Klaim Menang, Tapi Dunia Justru Makin Tidak Pasti

Sektor pertanian menjadi garis depan tekanan ini. Petani menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk secara tiba-tiba. Peternak sapi perah dan produsen sayuran dilaporkan mulai kesulitan menjaga produksi.

 

Presiden National Farmers’ Union, Tom Bradshaw, memperingatkan:

“Gangguan pasar minyak dan gas global sudah memberi tekanan besar pada usaha tani Inggris.”

 

Dampak juga merambat ke komoditas spesifik. Pasokan pistachio dan saffron—yang sebagian besar berasal dari Iran—mulai terganggu. Iran sendiri menguasai hingga 85–90 persen produksi saffron dunia.

 

Di sektor kesehatan, efeknya lebih halus namun berbahaya.

“Kami belum melihat kekurangan obat secara langsung, tapi kenaikan harga sudah terjadi,” kata Gareth Thomas dari National Pharmacy Association.

 

Baca Juga: Retak di NATO, Macron Kritik Keras Kebijakan Trump


Gangguan bukan berasal dari produksi Iran, melainkan dari rantai pasok global. Banyak bahan baku obat—terutama bahan kimia aktif—bergantung pada transportasi lintas Asia. Ketika jalur laut terganggu, distribusi ikut tersendat.

 

David Weeks dari Moody’s menjelaskan:

“Keterlambatan bahan baku petrokimia telah menghambat produksi obat, bahkan menghentikan sebagian produksi.”

 

Namun dalam jangka pendek, Inggris masih relatif aman. Negara-negara Eropa memiliki cadangan obat hingga enam bulan. Produsen juga menyimpan stok buffer sekitar delapan minggu.

 

“Selat Hormuz bukan Terusan Suez,” kata peneliti rantai pasok dari Stockholm School of Economics, Constantin Blome, menegaskan bahwa dampaknya tidak instan.

 

Memasuki enam minggu, tekanan mulai berubah dari harga ke ketersediaan. Pasokan daging ayam, babi, serta buah dan sayur segar berpotensi terganggu.

Baca Juga: Novak Djokovic Jadi Mentor Diam-Diam, Bintang Muda Iva Jovic Bongkar Peran Besarnya di Balik Layar

“Hortikultura akan terpukul lebih dulu,” ujar Lang.

Ia menambahkan, biaya pemanasan rumah kaca yang tinggi bisa membuat petani memilih tidak menanam.

 

Asosiasi petani tomat Inggris bahkan memperkirakan harga tomat, paprika, dan mentimun akan naik signifikan dalam waktu dekat.

 

Di sektor obat, pemerintah kemungkinan mulai melakukan penyesuaian distribusi. Farmasi dapat saling berbagi stok. Pemerintah juga bisa menerapkan protokol pembatasan untuk obat tertentu.

 

Namun jika krisis berlanjut hingga enam bulan, dampaknya menjadi struktural.

 

Pasokan gandum dan tanaman pangan utama akan terkena imbas. Biaya pupuk yang melonjak akan memengaruhi musim tanam berikutnya, yang dampaknya baru terasa pada 2027.

Baca Juga: Trump Bantah Intelijennya Sendiri, Retakan Gedung Putih Kian Terbuka

“Ini akan memperdalam ketimpangan pangan,” kata Lang.

Ia mengingatkan bahwa satu dari enam rumah tangga di Inggris sudah berada dalam kondisi rawan pangan.

 

Berbeda dengan negara seperti Swiss dan China yang memiliki cadangan pangan besar, Inggris hanya memiliki stok makanan sekitar tiga hari di rak supermarket.

 

Di sektor kesehatan, tekanan akan meningkat secara bertahap. Pemerintah harus mencari jalur distribusi baru atau pemasok alternatif.

 

“Dalam krisis seperti ini, negara dengan harga obat paling murah justru paling rentan kekurangan,” ujar Thomas.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Krisis Pangan #selat hormuz