Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pezeshkian Bongkar Akar Konflik Iran–AS Sejak 1953

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 2 April 2026 | 22:16 WIB
Rakyat Iran dalam aksi dukungan pada pemerintah melawan AS. (The Guardian)
Rakyat Iran dalam aksi dukungan pada pemerintah melawan AS. (The Guardian)

 

LombokPost - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika Serikat, meskipun hubungan kedua negara selama puluhan tahun diwarnai ketegangan dan konflik.

 

Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada publik Amerika, Pezeshkian menekankan perbedaan antara pemerintah dan rakyat.

“Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika,” tulisnya, seperti dikutip, Kamis (2/4).

 

Ia menjelaskan bahwa hubungan Iran dan Amerika pada awalnya tidak bermusuhan. Interaksi awal kedua bangsa bahkan berlangsung tanpa ketegangan berarti, sebelum akhirnya berubah akibat dinamika politik global.

 

Titik balik utama, menurut Pezeshkian, adalah peristiwa 1953 Iranian coup d’état.

Ia menyebutnya sebagai “intervensi ilegal Amerika yang bertujuan mencegah nasionalisasi sumber daya Iran”.

Baca Juga: Hormuz Lumpuh, Inggris Hanya Punya Stok Makanan Tiga Hari

Sejak saat itu, ketidakpercayaan terus berkembang. Iran menyoroti dukungan Washington terhadap rezim Shah, keterlibatan dalam konflik regional termasuk dukungan kepada Saddam Hussein, hingga kebijakan sanksi ekonomi yang disebutnya “tidak manusiawi”.

 

Ketegangan semakin meningkat dalam periode terbaru.

“Agresi militer tanpa provokasi—bahkan dua kali terjadi di tengah proses negosiasi—telah memperdalam luka ini,” tulis Pezeshkian.

 

Ia menegaskan bahwa dampak serangan tersebut tidak hanya bersifat militer, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat, cara pandang, dan psikologi publik Iran.

 

Namun di tengah tekanan tersebut, Iran tetap memisahkan antara kebijakan pemerintah dan rakyat negara lain.

“Yang kami lakukan adalah bagian dari hak sah untuk membela diri, bukan tindakan agresi,” tegasnya.

Baca Juga: Israel Sahkan Hukuman Mati untuk Palestina, Dunia Bereaksi

Pezeshkian juga menekankan bahwa prinsip ini bukan sekadar sikap politik sementara, melainkan bagian dari budaya dan kesadaran kolektif masyarakat Iran yang telah terbentuk selama sejarah panjang mereka.

 

“Sepanjang sejarahnya, Iran selalu mampu membedakan antara pemerintah dan rakyatnya,” tulisnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#kudeta #iran #as