LombokPost - Uni Eropa kembali berada di bawah tekanan tajam. Di tengah eskalasi konflik di Gaza, Lebanon, dan Tepi Barat, blok tersebut dinilai gagal menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel—meski memiliki kekuatan ekonomi dan diplomatik yang besar.
“Respons Uni Eropa lemah dan menyedihkan,” kata anggota Parlemen Eropa, Barry Andrews, usai kunjungannya ke Beirut.
Andrews menggambarkan langsung kondisi para pengungsi di Lebanon selatan yang melarikan diri dari serangan udara Israel.
“Ada kasur kotor, selimut kotor, orang-orang terkena infeksi dan ruam,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, bahkan lebih buruk dibanding konflik sebelumnya pada 2024. Situasi diperparah oleh pemotongan anggaran bantuan, membuat para pengungsi hidup dalam kondisi yang semakin tidak layak.
Baca Juga: Pezeshkian Bongkar Akar Konflik Iran–AS Sejak 1953
Sepulang dari Lebanon, Andrews menjadi salah satu tokoh pertama yang mendorong Uni Eropa untuk kembali menjatuhkan sanksi terhadap Israel. Ia menilai blok tersebut harus merespons bukan hanya serangan di Lebanon, tetapi juga kekerasan pemukim di Tepi Barat dan situasi kemanusiaan di Gaza.
Namun hingga kini, langkah Uni Eropa belum melampaui pernyataan verbal.
Padahal, secara ekonomi, Uni Eropa memiliki leverage besar melalui perjanjian kerja sama dengan Israel yang menopang hubungan dagang senilai sekitar €68 miliar. Instrumen ini dinilai bisa menjadi alat tekanan nyata.
Mantan perwakilan Uni Eropa untuk wilayah Palestina, Sven Kühn von Burgsdorff, menilai langkah konkret seharusnya sudah diambil.
“Kata-kata keprihatinan saja tidak cukup. Tanpa tindakan, itu menjadi tidak berarti,” tegasnya.
Ia bahkan mendorong penangguhan perjanjian kerja sama, penghentian dukungan militer, hingga larangan perdagangan dengan permukiman ilegal.
Baca Juga: Israel Sahkan Hukuman Mati untuk Palestina, Dunia Bereaksi
Di sisi lain, European Commission memang telah menyuarakan kritik. Komisi menyebut rencana hukuman mati terhadap warga Palestina sebagai “sangat mengkhawatirkan” dan langkah mundur dari standar hak asasi manusia.
Sementara Council of Europe menyebut kebijakan tersebut sebagai “anakronisme hukum” yang tidak sejalan dengan prinsip HAM modern.
Namun kritik tersebut belum diikuti kebijakan nyata.
Selama empat minggu terakhir, konflik terus memakan korban. Lebih dari 1.240 orang dilaporkan tewas di Lebanon, termasuk sedikitnya 124 anak-anak. Sekitar 1,1 juta warga terpaksa mengungsi. Di Gaza, ratusan orang kembali tewas sejak gencatan senjata Oktober, menambah total korban yang telah mencapai puluhan ribu.
Kendati demikian, Uni Eropa tetap berhati-hati. Salah satu faktor adalah konteks perang yang juga melibatkan Iran—yang selama ini dikritik keras oleh Uni Eropa atas pelanggaran HAM dan perannya dalam konflik global.
Baca Juga: Hormuz Lumpuh, Inggris Hanya Punya Stok Makanan Tiga Hari
Di balik itu, masalah utama terletak pada perpecahan internal. Negara-negara seperti Irlandia, Spanyol, dan Slovenia cenderung vokal membela Palestina. Sebaliknya, Jerman dan Austria lebih berhati-hati dalam mengkritik Israel karena faktor historis.
Situasi semakin rumit dengan peran Viktor Orbán, yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Orbán disebut berulang kali memveto langkah-langkah yang berpotensi memberi tekanan terhadap Israel.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, sebelumnya sempat mengusulkan sanksi dengan alasan “kelaparan buatan manusia” di Gaza. Namun usulan tersebut gagal mendapat dukungan mayoritas dan akhirnya menguap.
Seorang diplomat Uni Eropa mengakui bahwa tekanan terhadap Israel mungkin akan meningkat jika situasi terus memburuk.
“Mungkin akan ada titik di mana kita harus meningkatkan tekanan lagi,” katanya.
Namun hingga kini, Uni Eropa masih berada di persimpangan: antara mempertahankan hubungan strategis dengan Israel dan menjawab tuntutan moral serta hukum internasional.
Baca Juga: Trump Klaim Menang, Tapi Dunia Justru Makin Tidak Pasti
“Bagaimana mungkin Eropa terlihat hanya sebagai pengikut,” kata Kühn von Burgsdorff,
“jika itu justru merusak hubungan dengan dunia yang lebih luas.”
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin