LombokPost - Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bertanggung jawab atas penghancuran jembatan terbesar Iran, sekaligus mengeluarkan ancaman lanjutan kepada Teheran.
“Jembatan terbesar di Iran runtuh, tidak akan pernah digunakan lagi,” tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip Jumat (3/4).
Serangan tersebut menghantam jembatan gantung B1 yang menghubungkan Teheran dan Karaj—proyek infrastruktur bernilai sekitar 400 juta dolar dengan ketinggian mencapai 136 meter. Bagian tengah jembatan dilaporkan terkena dua kali hantaman hingga terbelah.
Media pemerintah Iran menyebut sedikitnya delapan orang tewas dan 95 lainnya luka-luka akibat serangan ini.
Trump tidak hanya mengklaim serangan, tetapi juga memperingatkan eskalasi berikutnya.
Baca Juga: Trump Juga Pertimbangkan Copot Jaksa Agung Pam Bondi, Sinyal Retakan Internal Makin Meluas
“Akan ada lebih banyak lagi jika kesepakatan tidak tercapai,” ujarnya.
Pernyataan itu mempertegas perubahan pendekatan Washington dari tekanan diplomatik menjadi aksi militer terbuka.
Sehari sebelumnya, dalam pidato utama, Trump bahkan mengancam akan melumpuhkan infrastruktur energi Iran.
“Kami akan menghantam setiap pembangkit listrik mereka secara keras dan kemungkinan secara bersamaan,” katanya.
Serangan terhadap jembatan ini bukan insiden tunggal. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah target strategis di Iran juga dilaporkan diserang, termasuk fasilitas militer di Isfahan.
Kota Isfahan sendiri menjadi perhatian karena diduga menyimpan sebagian cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen—mendekati level yang dapat digunakan untuk senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.
Baca Juga: Pezeshkian Bongkar Akar Konflik Iran–AS Sejak 1953
Di tengah situasi ini, muncul spekulasi bahwa Amerika Serikat sempat mempertimbangkan operasi militer berisiko tinggi untuk merebut material nuklir tersebut. Namun Trump justru menyatakan tidak terlalu memedulikannya.
“Saya tidak peduli,” ujarnya.
Konflik ini sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari, ketika serangan awal diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Salah satu momen paling kontroversial adalah tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan awal, di tengah proses negosiasi yang masih berjalan.
Iran merespons dengan ancaman balasan lebih besar.
“Serangan berikutnya akan lebih luas, lebih menghancurkan,” kata juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.
Sejauh ini, Iran menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas dan sekitar 20.000 lainnya luka-luka sejak perang dimulai, menurut estimasi lembaga kemanusiaan internasional.
Baca Juga: Uni Eropa Dikecam Lemah Hadapi Israel, Tekanan Menguat
Dampak konflik juga mulai terasa secara global. Harga minyak melonjak sekitar 7 persen hingga menyentuh 108 dolar per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, memperingatkan bahwa dunia kini berada di ambang perang yang lebih luas.
“Dunia berada di tepi perang besar dengan konsekuensi global yang katastrofik,” ujarnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin