LombokPost - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menaikkan tensi konflik dengan Iran. Ia mengancam “neraka akan turun” jika Teheran tidak segera membuka Selat Hormuz dalam tenggat waktu 48 jam.
Pernyataan keras itu disampaikan melalui platform Truth Social, mempertegas ultimatum Washington di tengah situasi perang yang telah memasuki lebih dari satu bulan.
“Waktu hampir habis – 48 jam sebelum semua neraka akan turun,” tulis Trump, seperti dikutip Minggu (5/4).
Ancaman ini muncul di saat dua negara juga berpacu dalam operasi pencarian pilot jet tempur AS yang jatuh di wilayah Iran.
Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menyisir area di Iran barat daya, lokasi jatuhnya pesawat tempur tersebut. Di sisi lain, militer Amerika juga mengerahkan operasi penyelamatan besar-besaran untuk menemukan awak yang masih hilang.
Baca Juga: AC Milan Bersiap Hadapi Napoli, Fans Datang Beri Dukungan
Situasi ini membuat medan konflik semakin tegang—bukan hanya di udara, tetapi juga di jalur energi global.
Selat Hormuz menjadi titik krusial.
Jalur sempit ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan atau gangguan kecil saja sudah cukup mengguncang harga energi global dan stabilitas ekonomi banyak negara.
Di tengah ancaman Trump, sejumlah kapal mulai kembali melintas secara terbatas, tetapi kondisi masih jauh dari normal.
Sementara itu, dampak konflik mulai meluas ke kawasan Teluk.
Militer Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya bekerja mencegat serangan dalam 24 jam terakhir.
“Ledakan yang terdengar adalah hasil intersepsi sistem pertahanan terhadap serangan musuh,” demikian pernyataan resmi militer Kuwait.
Dalam sehari, sedikitnya delapan rudal dan 19 drone berhasil dicegat.
Di front lain, Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi di Lebanon selatan. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, meminta warga menjauh dari wilayah yang diduga menjadi target operasi terhadap kelompok Hezbollah.
“Siapa pun yang berada dekat fasilitas militer akan berada dalam bahaya,” ujarnya.
Di tengah eskalasi militer, suara moral juga mulai menguat.
Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo, dalam misa Paskah di Vatikan, menyerukan dunia untuk tidak terbiasa dengan perang.
“Jangan biarkan diri kita lumpuh oleh konflik,” serunya. “Ketakutan dan ketidakpercayaan telah memutus hubungan antar manusia dan bangsa.”
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin