LombokPost - Konflik di Timur Tengah kian memanas pada Minggu (5/4/2026), ditandai eskalasi serangan lintas negara, ancaman terbuka terhadap jalur energi global, serta operasi militer berisiko tinggi yang memicu korban jiwa di sejumlah titik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan setelah melontarkan pernyataan keras kepada Iran terkait akses pelayaran di Selat Hormuz. Ia mendesak Teheran segera membuka jalur tersebut sambil mengancam akan memperluas serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi Iran.
Dalam perkembangan militer, Amerika Serikat berhasil mengevakuasi kru kedua dari jet tempur F-15E Strike Eagle yang sebelumnya jatuh di wilayah barat daya Iran. Proses penyelamatan berlangsung selama dua hari dan disebut melibatkan operasi intelijen rahasia. Trump menyatakan korban “mengalami luka serius” namun kini dalam kondisi “aman”.
Namun, operasi penyelamatan itu juga diwarnai korban sipil. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di wilayah yang sama selama misi berlangsung.
Di sisi lain, konflik meluas ke kawasan Teluk. Kuwait Petroleum Corporation melaporkan sejumlah fasilitasnya menjadi sasaran serangan drone Iran. Serangan tersebut memicu kebakaran dan menyebabkan kerugian material signifikan, mempertegas bahwa infrastruktur energi kini menjadi target utama dalam konflik.
Baca Juga: Sumpah Serapah Trump ke Iran, Emosi Hormuz Belum Dibuka Juga
Israel juga meningkatkan intensitas serangan di dua front sekaligus, yakni Lebanon dan Gaza. Serangan udara di wilayah Kfar Hatta, Lebanon selatan, dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak perempuan berusia empat tahun, berdasarkan laporan kantor berita resmi Lebanon.
Kelompok bersenjata Hezbollah menyatakan telah meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel sebagai balasan. Militer Israel mengklaim sebagian besar serangan tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.
Situasi ini menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi telah meluas menjadi konfrontasi regional yang melibatkan banyak aktor dan menyasar kepentingan strategis, terutama jalur energi global. Ketegangan di Selat Hormuz—yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima minyak dunia—menempatkan ekonomi global dalam posisi rawan, dengan potensi gangguan pasokan energi yang dapat berdampak luas hingga ke negara-negara importir seperti Indonesia.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin