LombokPost - Upaya diplomasi darurat tengah dilakukan untuk meredam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, dengan pembahasan gencatan senjata selama 45 hari yang berpotensi menjadi jalan menuju perdamaian permanen.
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Amerika Serikat, Iran, serta sejumlah mediator regional sedang membahas kerangka kesepakatan tersebut, berdasarkan sumber dari pihak AS, Israel, dan kawasan.
Kesepakatan ini dinilai sebagai peluang terakhir untuk mencegah eskalasi besar dalam perang yang kian meluas.
“Upaya terakhir ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mencegah eskalasi dramatis dalam perang,” tulis laporan tersebut.
Namun, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai kecil.
“Sumber menyebut kemungkinan tercapai dalam 48 jam ke depan sangat kecil,” lanjut laporan itu.
Di tengah pembicaraan, Presiden AS Donald Trump tetap melontarkan ancaman keras terhadap Teheran, termasuk rencana menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz sebelum batas waktu yang ditentukan.
Sebagai respons, militer Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap target sipil akan memicu balasan yang jauh lebih luas dan menghancurkan.
“Respons kami akan jauh lebih dahsyat dan meluas jika target sipil diserang,” tegas pernyataan militer Iran.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik ini. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga penutupannya telah menekan ekonomi global dan memicu lonjakan harga energi.
Baca Juga: Trump Klaim Pilot Selamat Setelah Jet Tempur F-15E Ditembak, Iran Sebut Operasi AS Gagal
Situasi ini menempatkan dunia dalam posisi genting: antara peluang diplomasi terakhir atau eskalasi besar yang berpotensi mengguncang sistem energi global.
“Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mencegah eskalasi dramatis,” tutup laporan tersebut.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin