Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BRIN: Bola Api di Lampung Sisa Roket Tiongkok, Terlihat Menyala karena Terbakar setelah Menyentuh Atmosfir Bumi

Redaksi • Senin, 6 April 2026 | 10:57 WIB
VIRAL: Warga Lampung digegerkan dengan bola api yang terbang menghujam ke bumi Sabtu (4/4) malam. Beragam spekulasi muncul. (IST)
VIRAL: Warga Lampung digegerkan dengan bola api yang terbang menghujam ke bumi Sabtu (4/4) malam. Beragam spekulasi muncul. (IST)

LombokPost - Sabtu (4/4) malam warga Lampung digegerkan dengan bola api yang terbang menghujam ke bumi. Beragam spekulasi muncul. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bola api mirip meteor itu adalah sampah antariksa.

Kepastian tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin. Dia menjelaskan, obyek yang berhasil direkam kamera ponsel warga itu  merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi.

Thomas mengatakan, obyek tersebut terlihat mencolok karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi. Selain itu, benda tersebut mengalami gesekan dengan udara atmosfer. "Sehingga terbakar dan tampak terang dari permukaan Bumi," katanya, Minggu (5/4).

Baca Juga: BRIN Warning Kemunculan ‘Godzilla El Nino’, Jawa hingga Nusa Tenggara Terancam Kekeringan Ekstrem!

Gesekan tersebut juga membuat obyek tampak terpecah menjadi beberapa bagian. “Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” tambah Thomas.

Benda tersebut melintas ke arah selatan. Warga di Provinsi Banten bagian utara yang berbatasan laut dengan Lampung juga melihatnya.

Berdasarkan data dari Space-Track dan hasil analisis orbit, Thomas mengatakan, sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatera. Pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 kilometer. Kemudian memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat.

Baca Juga: Pertama di Indonesia! BRIN dan Vaksindo Kembangkan Vaksin Rabies Berbasis mRNA: Lebih Aman dan Siap Mendunia!

Pada ketinggian tersebut, hambatan udara meningkat drastis. Sehingga menyebabkan objek kehilangan kecepatan serta ketinggian dengan cepat. Proses ini memicu gesekan intens yang menghasilkan panas tinggi. Dampaknya, benda tersebut terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh di permukaan bumi. "Kemungkinan besar pecahannya jatuh tersebar di hutan atau di laut," terangnya.

Thomas menjelaskan, fenomena jatuhnya sampah antariksa sebenarnya bukan hal langka secara global. Tetapi kejadian yang melintas dan dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia tergolong jarang. Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada  2022. Kala itu, objek serupa terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa fenomena itu pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman. Namun,  sampai saat ini hal itu belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Baca Juga: Diabetes Tak Lagi Perlu Telan Obat? BRIN Ciptakan Patch Kulit Glibenklamid, Efeknya Tahan 24 Jam!

Thomas juga menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer. Kemudian, ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

Mantan Kepala Lapan itu mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena seperti itu merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah. Sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan. (wan/oni/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#atmosfir #serpihan cahaya #BRIN #antariksa #Bumi