Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menlu Iran Sebut UEA Tak Bisa Mengeklaim Sebagai Korban

Redaksi Lombok Post • Jumat, 15 Mei 2026 | 11:04 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi
Menlu Iran Abbas Araghchi

LombokPost – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Uni Emirat Arab (UEA) terkait peran negara tersebut dalam konflik bersenjata yang baru saja terjadi. Araghchi menegaskan bahwa UEA tidak selayaknya memosisikan diri sebagai korban mengingat keterlibatan mereka dalam memfasilitasi kekuatan asing.

Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas klaim pejabat UEA dalam pertemuan menteri luar negeri negara-negara BRICS di New Delhi, India. Iran menuding UEA telah memberikan dukungan krusial bagi pasukan Amerika Serikat selama periode peperangan.

"Selama perang ini, UEA berdiri di samping Amerika Serikat dan tidak dapat menggambarkan diri sebagai korban dan mengatakan bahwa wilayahnya diserang," ujar Araghchi dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Menlu Iran Abbas Araghchi: Serang Kami Lagi, Kalian Hanya Akan Mengulangi Kegagalan!

Pihak Teheran mengeklaim memiliki bukti kuat bahwa pangkalan militer, personel, dan peralatan tempur Amerika Serikat yang ditempatkan di negara-negara pesisir Teluk Persia—termasuk UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, hingga Yordania—telah digunakan untuk menyerang wilayah Iran.

Sebagai bentuk pembalasan, Iran setidaknya telah melancarkan 100 gelombang serangan balasan yang menyasar target-target strategis di wilayah-wilayah tersebut. Araghchi menekankan bahwa tindakan Iran bersifat selektif dan terukur.

"Ada intelijen yang tepat, pengakuan dari pejabat Amerika, dan dokumen yang sepenuhnya jelas yang menunjukkan bahwa UEA menempatkan pangkalan-pangkalan militernya di bawah kendali Amerika Serikat selama agresi ini sehingga operasi terhadap Iran dapat dilakukan. UEA menyediakan wilayah udara dan teritorialnya, menyerahkan pangkalan-pangkalan lain juga, dan menawarkan layanan kepada pasukan Amerika," tegas Araghchi.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam operasi pembalasan tersebut, Iran hanya menargetkan "sasaran Amerika di wilayah Emirat."

Seruan Perubahan Paradigma Keamanan

Republik Islam Iran berulang kali memperingatkan bahwa menampung aset militer asing justru menimbulkan ketidakamanan bagi negara tuan rumah. Araghchi menyarankan agar UEA mengevaluasi kembali ketergantungan keamanan mereka pada pihak luar.

"Pada akhirnya, saya juga menasihati perwakilan UEA bahwa rezim Zionis dan Amerika Serikat tidak dapat memberi mereka keamanan, seperti yang telah mereka lihat sekarang sebagai konsekuensi dari menampung pangkalan-pangkalan Amerika," katanya. Ia menambahkan, "Akan lebih baik bagi mereka untuk mengubah pandangan mereka terhadap Republik Islam."

Baca Juga: Kapal Perang AS Bersiap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Setelah Proposal Damai Ditolak Iran

Menutup pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa stabilitas jangka panjang di Asia Barat hanya bisa dicapai melalui persaudaraan dan kerja sama regional, bukan dengan mengundang intervensi kekuatan trans-regional.

"Kita dan UEA adalah tetangga. Kita telah hidup berdampingan di masa lalu, dan kita harus terus hidup berdampingan di masa depan," tuturnya. "Oleh karena itu, mereka harus mengubah perspektif mereka dan melihat keamanan dalam kerja sama satu sama lain, bukan dalam kerja sama dengan negara asing."

Pesan diplomasi ini menjadi sinyal kuat bagi negara-negara di kawasan Teluk untuk mengedepankan dialog kolektif demi menghindari eskalasi konflik serupa di masa depan.

Editor : Redaksi Lombok Post
#UAE #Israel #Abbas Araghchi #iran