LombokPost - Bahrain dan Kuwait ikut terdampak setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling melancarkan serangan baru. Kuwait menyatakan, sistem pertahanan udaranya mencegat sejumlah rudal dan drone, sedangkan Bahrain mengaktifkan sirene peringatan setelah muncul ancaman serangan.
CENTCOM atau Pusat Komando Militer AS menyatakan, AS memang kembali menyerang Pulau Qeshm, wilayah strategis Iran di dekat Selat Hormuz. Mengutip Al Jazeera, seperti serangan sebelumnya, CENTCOM berdalih serangan itu dilakukan untuk pertahanan diri. Targetnya adalah fasilitas kendali dan menara komunikasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Baca Juga: Situs Sejarah Diserang, Iran Siap Gugat Amerika Serikat dan Israel ke Jalur Hukum Internasional
Serangan tersebut terjadi setelah IRGC menuduh militer AS menyerang tanker minyak Iran di sekitar Selat Hormuz. Mereka kemudian mengklaim, membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel menggunakan rudal angkatan laut.
Teheran juga mengaku, meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah aset militer AS di kawasan Teluk Persia. Salah satunya termasuk markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Namun, CENTCOM membantah serangan Iran berhasil mengenai target-target militer AS. Meski demikian, mereka menyatakan, pasukan AS tetap waspada dan siap untuk membela diri terhadap agresi Iran.
Baca Juga: Upayakan Penghentian Konflik permanen, Iran Serahkan Tanggapan Atas Proposal Amerika Serikat
Peluang Negosiasi
Di tengah eskalasi militer tersebut, upaya diplomasi masih berjalan meski peluang keberhasilannya belum jelas. Presiden AS Donald Trump mengatakan, pembicaraan dengan Teheran tetap berlanjut.
Namun, dia mengakui, hasilnya masih sulit diprediksi. "Kami tidak pernah tahu ke mana pembicaraan itu akan mengarah," ujar Trump.
Dari Teheran, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Iran dapat menghentikan perundingan dengan Washington dan memilih jalur konfrontasi. “Itu kalau serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut,” katanya, seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa nasib negosiasi Iran-AS kini tidak hanya ditentukan oleh situasi di Teluk. Tapi, juga perkembangan konflik bersenjata yang melibatkan Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Terpisah, analis Timur Tengah Alan Eyre mengatakan, untuk meredakan konflik harus ada kesepakatan yang menguntungkan AS maupun Iran. “Blokade Amerika memang merusak Iran, tapi penutupan Selat Hormuz menekan perekonomian global," ujarnya.
Sementara itu, dalam kesaksiannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada Selasa (2/6), Menteri Luar Negeri AS Rubio mengatakan, pencabutan sanksi terhadap Iran hanya dapat dilakukan jika negeri yang beribu kota di Teheran itu menyetujui pembatasan ketat terhadap aktivitas nuklirnya. Rubio juga menegaskan, penolakan Washington terhadap rencana Iran mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online