LombokPost – Hubungan kerja sama antara Iran dan Rusia di sektor energi strategis kian erat. Kedua negara dilaporkan telah menandatangani memorandum kerja sama senilai 25 miliar dollar AS (sekitar Rp 407 triliun) untuk pengembangan sektor nuklir.
Seperti dilansir TasnimNews, informasi tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali. Ia menegaskan bahwa kesepakatan besar ini menjadi bukti nyata dari perluasan kolaborasi kedua negara dalam proyek-proyek energi nuklir utama.
Pernyataan itu disampaikan Jalali dalam konferensi ilmiah dan praktis daring bertajuk “Kerja Sama Rusia-Iran di Dunia yang Berubah” yang digelar di Moskow pada Rabu waktu setempat. Dalam forum tersebut, ia menguraikan berbagai proyek ekonomi dan strategis bersama yang tengah dikejar oleh Teheran dan Moskow.
Selain sektor energi, Jalali juga menyoroti perkembangan proyek rute logistik strategis melalui Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan (INSTC). Menurutnya, situasi geopolitik global saat ini membuat jalur non-maritim menjadi sangat krusial.
Baca Juga: Iran : Perdamaian Kawasan Mustahil Tanpa Penarikan Militer Israel dari Lebanon
“Mengingat bahwa jalur air dan selat internasional telah terancam, pentingnya jalur non-maritim menjadi lebih jelas dari sebelumnya. Salah satu jalur utama adalah Koridor Utara-Selatan, yang sedang diperkuat melalui tekad negara-negara regional, terutama Republik Islam Iran dan Rusia,” katanya.
Saat ini, lebih dari 3 juta ton kargo telah melewati bagian timur koridor dari total kapasitas maksimal yang mencapai 150 juta ton. Sementara itu, bagian tengah yang melewati Laut Kaspia telah mengangkut sekitar 10 juta ton kargo dari kapasitas 14 juta ton.
Jalali menambahkan, sekitar 3 juta ton barang juga mengalir melalui bagian barat via Republik Azerbaijan. Ia pun menekankan pentingnya penyelesaian proyek kereta api Rasht-Astara guna memaksimalkan potensi rute tersebut.
Di samping logistik kargo, kedua negara tengah mematangkan rencana transfer gas Rusia melalui wilayah Iran, serta pengangkutan barang-barang strategis menuju negara-negara Eurasia.
Terkait implementasi di sektor nuklir, Jalali melaporkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr saat ini sudah beroperasi penuh, sementara pembangunan unit kedua dan ketiga terus berjalan.
“Kami berterima kasih kepada teman-teman Rusia kami karena secara bertahap mengembalikan para ahli dan insinyur ke Iran,” katanya.
Lebih lanjut, Iran kini tengah menggenjot proyek PLTN Hormuz berskala besar. Proyek raksasa yang masuk dalam nota kesepahaman senilai 25 miliar dollar AS pada tahun 2025 ini disebut sebagai tonggak baru bagi industri energi Iran.
“Ini adalah proyek nuklir terbesar Iran. Proyek ini sedang dikerjakan oleh sektor swasta Iran bekerja sama dengan Rosatom,” kata Jalali.
Kerja sama dengan perusahaan nuklir negara Rusia (Rosatom) tersebut juga mencakup pengembangan proyek PLTN skala kecil yang diharapkan dapat segera dimulai dalam waktu dekat.
Sektor lain yang mengalami pertumbuhan pesat dari kolaborasi ini adalah penelitian bersama di bidang produksi radiofarmasi (nuklir untuk keperluan medis).
“Iran telah membuat kemajuan luar biasa di bidang ini. Saat ini, kami memproduksi 70 produk radiofarmasi,” katanya.
Berkat pencapaian tersebut, Iran sukses mengukuhkan posisinya di urutan tiga teratas sebagai produsen radiofarmasi terbesar di dunia pada tahun 2025. Jalali menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi bukti kuat komitmen Teheran untuk terus memanfaatkan teknologi nuklir demi tujuan damai dan kemanusiaan.
Editor : Redaksi Lombok Post