LombokPost— Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian meningkat menyusul pengumuman strategi pertahanan regional terbaru oleh militer Iran. Brigadir Jenderal Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah mengumumkan pembentukan poros pertahanan baru yang tangguh yang membentang dari Selat Hormuz hingga Bab el-Mandeb dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah.
Jenderal Qaani memuji operasi heroik dan tepat waktu yang dilakukan Yaman, menyoroti kebijaksanaan, koordinasi, dan kekuatan Front Perlawanan yang semakin meningkat dalam menghadapi provokasi Israel dan Amerika.
“Dari Selat Hormuz hingga Bab el-Mandeb dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah, sabuk keamanan baru Perlawanan akan dibentuk,” kata komandan Pasukan Quds dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin.
Baca Juga: Iran dan Israel Kembali Saling Serang, Harga Minyak Langsung Melonjak
“Tindakan tepat waktu dan kuat dari Yaman yang heroik adalah tanda kebijaksanaan Front Perlawanan. Jika perlu, pihak lain juga akan bergabung,” ujarnya.
“Kejahatan rezim Zionis dan Amerika di kawasan ini akan dibalas dengan reaksi dari Front Perlawanan yang bersatu,” tegasnya.
“Para pejuang tanpa batas mengawasi titik-titik strategis Anda. Jika Anda terus melakukan agresi, mereka akan mencekik Anda,” kata Jenderal Qaani.
Pernyataan komandan IRGC ini muncul ketika Poros Perlawanan menunjukkan persatuan dan tekad yang belum pernah terjadi sebelumnya melawan agresi brutal rezim Zionis di Gaza, Lebanon, dan Republik Islam Iran. Rezim tersebut sepenuhnya didukung dan dibantu oleh Amerika Serikat.
Peringatan Jenderal Qaani jelas bahwa setiap agresi baru Israel atau Amerika di jalur perairan strategis Asia Barat akan memicu respons yang cepat, terkoordinasi, dan menghancurkan dari pasukan perlawanan di berbagai front.
Baca Juga: Balas Serangan ke Lebanon, Iran Hantam Pangkalan Udara Ramat David Israel dengan Rudal Balistik
Dalam eskalasi ini, kelompok Ansarullah di Yaman memegang peranan krusial pada sektor maritim. Ansarullah Yaman telah menunjukkan kekuatannya untuk menimbulkan kerugian besar pada pelayaran yang terkait dengan Israel di Laut Merah dan Bab el-Mandeb.
Dampak dari koordinasi militer ini mulai memengaruhi aktivitas domestik di wilayah Israel. Pada Senin pagi, angkatan bersenjata Yaman melancarkan serangan rudal balistik yang menargetkan wilayah Palestina yang diduduki, memaksa rezim Israel untuk menghentikan sepenuhnya semua penerbangan di Bandara Internasional Ben Gurion sambil mengaktifkan sirene serangan udara di seluruh Tel Aviv dan wilayah Palestina yang diduduki di bagian tengah dan selatan.
Berdasarkan data taktis di lapangan, serangan udara tersebut terkonfirmasi menembus perimeter pertahanan udara. Menurut tentara pendudukan Israel, sebuah rudal ditembakkan dari Yaman ke arah bagian tengah wilayah pendudukan.
Langkah darurat segera diambil oleh otoritas transportasi udara setempat guna meminimalisasi risiko. Otoritas penerbangan Israel terpaksa menangguhkan semua kedatangan dan keberangkatan di Ben Gurion sebagai akibat langsung dari peluncuran rudal Yaman dan peringatan keamanan yang menyertainya, menyebabkan gangguan besar pada lalu lintas udara dan secara efektif mengisolasi rezim pendudukan dari langit.
Pihak Yaman menegaskan bahwa rentetan operasi militer ini memiliki landasan ideologis dan solidaritas yang kuat. Gerakan perlawanan Ansarullah Yaman telah berulang kali menunjukkan kemampuan canggihnya, dengan juru bicara militer Yahya Saree menegaskan dalam operasi serupa bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari "jihad suci" yang sedang berlangsung untuk mendukung rakyat Palestina, Lebanon, dan Iran yang tertindas melawan agresi AS-Israel.
Editor : Redaksi Lombok Post