LombokPost– Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan pernyataan emosional terkait posisi geopolitik negaranya. Ia menegaskan kembali bahwa Republik Islam Iran tidak akan pernah tunduk pada segala bentuk ancaman, tekanan eksternal, maupun agresi militer dari pihak asing.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam upacara peringatan untuk Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Agenda tersebut turut dihadiri oleh keluarga korban dari perang yang baru-baru ini terjadi di Iran.
Menurut Pezeshkian, ketahanan nasional yang ditunjukkan oleh rakyat Iran melalui dukungan penuh terhadap pemerintah dan angkatan bersenjata merupakan modal terbesar negara saat ini.
Pezeshkian menyatakan bahwa partisipasi luas warga Iran dalam demonstrasi malam hari yang diadakan sejak agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, menjadi bukti runtuhnya upaya musuh untuk melemahkan mental bangsa.
Respons masif dari publik tersebut dinilai memperkuat kohesi sosial yang menjadi pilar utama kekuatan pertahanan Iran.
Baca Juga: Presiden Masoud Pezeshkian: Iran Akan Balas Agresi, Namun Tetap Prioritaskan Persatuan Regional
“Ini menunjukkan bahwa modal sosial Iran adalah dukungan terbesar bagi keamanan dan kemajuan negara,” kata Pezeshkian.
Ia juga menambahkan, “Salah satu komponen terpenting kekuatan suatu negara adalah persatuan internal dan kohesi internal.”
Lebih lanjut, Pezeshkian menuding bahwa musuh-musuh Teheran secara konsisten berupaya menciptakan polarisasi dan perpecahan di dalam masyarakat. Namun, ia optimis tidak ada satu pun negara yang dapat dipaksa menyerah hanya melalui gertakan militer.
Keluar dari Status "Tidak Ada Perang, Tidak Ada Perdamaian"
Dalam kesempatan tersebut, Pezeshkian memberikan penghormatan mendalam atas peran strategis almarhum Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dalam mengelola urusan negara. Ia mencatat bahwa sang Pemimpin semasa hidupnya telah mengizinkan proses diplomasi tetap berjalan demi mengakhiri status ketidakpastian politik.
“Kita harus keluar dari situasi ‘tidak ada perang, tidak ada perdamaian’ ini. Perang jelas bukan untuk kepentingan negara, tetapi itu tidak berarti bahwa jika mereka ingin melanggar martabat kita, tanah kita, dan wilayah kita, kita akan menyerah atau mundur. Jangan sampai mereka bermimpi tentang itu,” tegasnya.
Baca Juga: Abaikan Tekanan Trump, Presiden Masoud Pezeshkian: Iran Tidak Akan Menyerah dengan Cara Apa Pun
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah ini memuncak ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara baru terhadap wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut terjadi sekitar delapan bulan setelah aksi militer serupa yang menyasar Teheran tanpa provokasi jelas.
Iran merespons cepat dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone (pesawat tanpa awak) secara masif, yang menargetkan titik-titik vital di wilayah Israel serta pangkalan militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah.
Memasuki tanggal 8 April, atau tepat empat puluh hari setelah konflik bersenjata pecah, sebuah kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Pakistan antara Iran dan AS akhirnya mulai diberlakukan. Washington kemudian memperpanjang status gencatan senjata tersebut secara sepihak.
Gencatan senjata ini awalnya diharapkan membuka ruang diplomasi melalui negosiasi intensif yang digelar di ibu kota Pakistan, Islamabad. Namun, proses pembicaraan tersebut berakhir buntu tanpa kesepakatan. Diskusi dilaporkan terhenti di tengah jalan akibat tuntutan maksimalis dan desakan posisi dari pihak Washington yang dinilai tidak masuk akal oleh Teheran.
Editor : Redaksi Lombok Post