Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

AS Yakin Bisa Diteken, Iran Masih Mengkaji

Redaksi • Senin, 15 Juni 2026 | 09:41 WIB
ANCAM PERDAMAIAN: Tentara Lebanon berjaga-jaga di saat warga membersihkan puing-puing di lokasi serangan udara Israel yang menargetkan sebuah bangunan di pinggiran selatan Beirut, Sabtu (14/6). Presiden AS Donald Trump yakin kesepakatan damai antara AS-Iran akan diteken Senin (15/6). Sementara Iran justru masih mengkaji kesepakatan damai tersebut dalam berbagai aspek. Salah satunya memasukkan Lebanon dalam kesepakatan. Namun sampai Sabtu (14/6), Israel masih menggempur Lebanon. (IBRAHIM AMRO / AFP)
ANCAM PERDAMAIAN: Tentara Lebanon berjaga-jaga di saat warga membersihkan puing-puing di lokasi serangan udara Israel yang menargetkan sebuah bangunan di pinggiran selatan Beirut, Sabtu (14/6). Presiden AS Donald Trump yakin kesepakatan damai antara AS-Iran akan diteken Senin (15/6). Sementara Iran justru masih mengkaji kesepakatan damai tersebut dalam berbagai aspek. Salah satunya memasukkan Lebanon dalam kesepakatan. Namun sampai Sabtu (14/6), Israel masih menggempur Lebanon. (IBRAHIM AMRO / AFP)

LombokPost - Saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkoar bahwa kesepakatan damai bakal diteken Senin (15/6) WIB, Iran justru menepisnya.

Teheran menyatakan, masih dalam proses mengkaji berbagai aspek dari kesepakatan itu.

“Kami masih harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan kesepakatan. Yang pasti tidak besok (14/6),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei di Teheran Sabtu (13/6) lalu.

Baca Juga: Heli Jatuh Picu Kenaikan Harga Minyak, Proses Negosiasi AS-Iran Masih Berjalan

Lewat akun Truth Social-nya, Trump mengumumkan pada Sabtu (13/6) bahwa kesepakatan bakal diteken Minggu (14/6).

Dengan beda 12 jam, kalau benar terwujud, kemungkinan akan diteken pagi atau siang ini WIB. Namun, Trump tak menyebut kapan persisnya.

Baghaei tak membantah bahwa kemungkinan kesepakatan tersebut ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Tegaskan Kedaulatan, Presiden Pezeshkian: Iran Tidak Akan Pernah Tunduk pada Ancaman dan Tekanan

Adapun Kantor Berita Fars yang mengutip sumber di pemerintah Iran melansir bahwa Teheran belum memfinalisasi atau mendeklarasikan posisi mereka terkait poin-poin kesepakatan.

Saat ini, lanjut Fars yang berbasis di Teheran, Iran masih dalam tahap mengkaji sisi politis, hukum, dan teknis di tataran pakar dan pengambil keputusan.

“Semua dilakukan dengan pertimbangan yang sama seperti selama ini demi menjaga kepentingan nasional, batas-batas kedaulatan, dan mendapatkan jaminan yang diperlukan,” kata sumber tersebut.

Baca Juga: Imbas Saling Blokade Selat Hormuz dan Serangan AS ke Iran: Harga Minyak Dunia Meroket ke USD 89,27 per Barel!

Jumat (12/6) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa Iran dan AS sudah hampir mencapai kata sepakat setelah dua bulan berunding.

“Kesepakatan itu bertujuan untuk mengonsolidasikan kemenangan rakyat Iran,” katanya, seperti dikutip dari Kantor Berita IRNA.

Trump, sebaliknya, sedemikian yakinnya kesepakatan akan diteken.

“Dan, segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz terbuka untuk semua,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP.

Bukan hanya itu, Trump juga menyebut bahwa AS akan mengambil alih stok uranium Iran.

“Pada waktu yang tepat, ketika kondisi sudah tenang, kami akan mengambil ‘Nuclear Dust’ (uranium, red), menguburnya jauh di bawah gunung granit, dan menghancurkannya,” katanya.

Ironi Unggahan Trump

Namun, sebagaimana umumnya unggahan Trump di Truth Social yang sekadar bombastis, masih sulit diyakini bahwa koar-koarnya akan terwujud. Bahkan, ada ironi dari pernyataannya itu.

Pertama, sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dan gas dunia, sudah terbuka untuk kapal mana saja.

Iran memblokade dan belakangan menutup total selat itu sebagai bentuk reaksi atas serangan tersebut.

Kedua, sebelum AS dan Israel menyerang, Iran sudah dalam tahap akhir perundingan nuklir dengan AS dengan Oman sebagai mediator. Dan, seperti dinyatakan Oman, Iran sudah menyepakati untuk menurunkan stok uranium mereka secara bertahap sampai nantinya benar-benar kosong.

Soal tidak membuat senjata nuklir, Iran sudah berkomitmen sejak dulu.

Sementara itu, Pakistan sebagai mediator perundingan damai kedua pihak juga sama optimistisnya bahwa kesepakatan akan segera diteken.

“Kami lebih dekat pada terealisasinya perjanjian dibandingkan sebelumnya. Kami percaya bahwa kesepakatan damai ini akan menjadi fondasi kuat bagi perdamaian abadi,” tulis Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di akun X-nya.

Sebelumnya, meski sudah menyepakati gencatan senjata sejak 8 April, AS dan Iran masih bergantian menyerang.

AS mengklaim bahwa serangannya didasarkan atas prinsip membela diri dari ancaman. Sedangkan Iran menyebut bahwa mereka merespons serangan tersebut.

Pekan lalu, Iran untuk kali pertama juga menyerang Israel lebih dulu dengan alasan Negeri Yahudi itu melanggar kesepakatan damai karena terus menyerang Lebanon. Israel membalas serangan itu. sebelum kemudian Trump menegur PM Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam perkembangan yang sama, Al Jazeera melaporkan, delegasi Qatar juga telah mendarat di Teheran. Mereka bertugas meyakinkan Iran agar bersedia segera meneken perjanjian damai dengan AS. (wan/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#pakistan #selat hormuz #Amerika Serikat #iran #luar negeri