LombokPost - Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran mulai memulihkan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk.
Namun, jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih menghadapi kemacetan setelah ratusan kapal menunggu giliran melintas menyusul berakhirnya konflik di kawasan tersebut.
Dilansir dari Al Jazeera, sekitar 500 kapal saat ini masih mengantre untuk melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati, Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz
Antrean panjang terjadi karena lalu lintas pelayaran sempat terganggu selama konflik berlangsung, sementara otoritas maritim masih melakukan upaya pengamanan jalur pelayaran sebelum arus kapal kembali normal.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak global dan sebagian besar perdagangan gas alam cair internasional melintasi selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Total, Pasokan Energi Global Terganggu
Wall Street Menguat
Kesepakatan damai antara Washington dan Teheran disambut positif oleh pasar keuangan global. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 menguat 1,7 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 3,1 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average juga naik 0,9 persen dan ditutup pada rekor tertinggi baru.
Analis senior saham teknologi di Seaport Research Partners, Jay Goldberg, menilai kesepakatan Amerika-Iran telah mengubah persepsi risiko investor sehingga mendorong minat beli di pasar. “Perang tampaknya sudah berakhir, jadi argumen dari sisi itu menjadi tidak relevan. Investor sekarang merasa lebih nyaman mengambil lebih banyak risiko,” ujar Goldberg.
Di sisi lain, harga minyak dunia justru turun tajam seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi. Harga minyak mentah Brent berjangka anjlok hampir 5 persen menjadi sedikit di atas USD 83 per barel, level terendah sejak awal konflik.
Meski situasi keamanan mulai membaik, pemulihan rantai pasok energi global diperkirakan tidak berlangsung instan. Industri pelayaran masih harus menunggu proses pembersihan dan verifikasi keamanan jalur laut, termasuk memastikan tidak ada ancaman ranjau yang tersisa di sekitar Selat Hormuz. Akibatnya, normalisasi arus perdagangan energi dunia diperkirakan baru akan tercapai dalam beberapa bulan ke depan. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online