Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belanda Minta Maaf kepada Komunitas Maluku, Daya Tahan Orang Maluku dan Keturunan Sangat Kuat

Redaksi • Selasa, 23 Juni 2026 | 15:13 WIB
TAK LUPA SEJARAH: Perdana Menteri Belanda Rob Jetten (kanan) menyapa orang Maluku menjelang peresmian monumen peringatan komunitas Maluku di Rotterdam, Ahad (21/6). (ROB ENGELAAR / ANP / AFP)
TAK LUPA SEJARAH: Perdana Menteri Belanda Rob Jetten (kanan) menyapa orang Maluku menjelang peresmian monumen peringatan komunitas Maluku di Rotterdam, Ahad (21/6). (ROB ENGELAAR / ANP / AFP)

LombokPost - Kevin Diks Bakarbessy, Shayne Pattinama, Ragnar Oratmangoen, dan Joe Pelupessy adalah serpihan pengingat relasi Indonesia dan Belanda. Para penggawa tim nasional itu memiliki garis keturunan dari Maluku.

Sejarah orang-orang Maluku di Belanda menjulur panjang. Di sejumlah bagian, harus melewati jalur penuh onak dan tanpa lampu.

Ahad (21/6), Perdana Menteri (PM) Belanda Rob Jetten mengakui periode gelap tersebut. Dia, atas nama pemerintah Belanda, secara resmi meminta maaf atas buruknya perlakuan terhadap komunitas Maluku di Belanda setelah Indonesia merdeka.

Baca Juga: Tampil Menggila, Pemain Anyar Real Madrid Denzel Dumfries Bantu Timnas Belanda Bantai Swedia 5-1

“Untuk penerimaan dan pemukiman yang tidak memadai. Untuk pengabaian dan penelantaran. Untuk kerinduan terhadap rumah yang gagal terwujud. Dan, untuk kesedihan serta luka yang dirasakan banyak keluarga. Untuk semuanya itu, saya meminta maaf atas nama pemerintah Belanda,” kata Jetten dalam sambutan peresmian Monumen Ulu Kora di Lloydkade, Rotterdam, seperti dikutip dari AFP.

Di kawasan tempat monumen berdiri itulah kapal pertama yang mengangkut para Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku tiba pada 1951. Total ada sekitar 12.900 serdadu KNIL beserta keluarga yang dibawa ke Negeri Tulip dengan tujuan awal repatriasi sementara.

Kelak, jika Republik Maluku Selatan (RMS) sudah resmi berdiri, mereka akan dikembalikan ke kampung halaman. Namun, RMS gagal berdiri dan Belanda juga tak membantu mewujudkannya.

Baca Juga: Tampil Impresif di Piala Dunia, Cody Gakpo Ungkap Perbedaan Peran di Belanda dan Liverpool

Sejak itulah periode sulit warga Maluku di Belanda dimulai. Mereka yang dulu tergabung dalam militer diberhentikan. Sebagian di antaranya dikirim ke bekas kamp-kamp konsentrasi Nazi saat menduduki Belanda.

Belanda juga tak menyediakan pekerjaan untuk mereka atau mengadakan program integrasi terhadap kultur setempat. Muaranya, pada 1970-an, terjadi peningkatan tindak kekerasan oleh generasi kedua warga Maluku yang merasa dikhianati Belanda.

Yang paling menonjol adalah penyanderaan sekolah dan pembajakan kereta pada 1977. Kedua peristiwa itu berakhir penuh darah setelah keterlibatan pasukan khusus Belanda.

Baca Juga: Dramatis! Daichi Kamada Selamatkan Jepang dari Kekalahan vs Belanda di Piala Dunia 2026

“Saya tahu, ketidakadilan tidak bisa serta-merta dihapus dengan permintaan maaf. Namun, semoga apa yang saya sampaikan bisa dianggap sebagai bentuk pengakuan dan keadilan sejarah bagi Anda sekalian,” kata Jetten kepada para anggota komunitas warga Maluku yang menghadiri seremoni, sebagian di antaranya membawa foto keluarga mereka dari generasi pertama yang telah meninggal.

Generasi Ketiga

Menurut sejarawan Henk Smeets dan antropolog Fridus Steijlen dalam buku yang mereka tulis bersama, In Nederland Gebleven (Mereka Bertahan di Belanda), setelah berjuang dalam perang, para serdadu KNIL asal Maluku masih harus kembali berjuang demi hak-hak mereka saat tinggal di Belanda.

Mereka, kata Steijlen, lambat berintegrasi karena sedari awal tidak dimaksudkan untuk tinggal permanen di Belanda. Namun, dia mengagumi daya tahan orang-orang Maluku dan keturunan mereka.

“Kini generasi ketiga orang Maluku tidak berkata, ‘Saya orang Belanda dan bangga menjadi orang Belanda.’ Mereka bilang, ‘Saya orang Maluku, tetapi ini masyarakat saya dan saya tidak akan menoleransi diskriminasi. Ini tempat tinggal saya,’” kata Steijlen kepada Dutch News saat peluncuran bukunya tahun lalu. (ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Indonesia #belanda #maluku