4.200 Pemukim Israel Serbu Kompleks Al-Aqsa, Delapan Negara Arab Kecam Israel

Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:26 WIB
PERINGATI HARI BERKABUNG: Pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (23/7). (Lilia YEFIMOVICH / AFP)
PERINGATI HARI BERKABUNG: Pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (23/7). (Lilia YEFIMOVICH / AFP)

LombokPost - Sedikitnya 4.200 pemukim Israel bersama kelompok sayap kanan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (23/7). Aksi ini diikuti Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir. Kecaman keras datang dari delapan negara Arab dan mayoritas Muslim yang menilai tindakan tersebut sebagai provokasi dan pelanggaran terhadap status quo di kawasan suci tersebut.

Dilansir dari Al Jazeera, Pemerintah Provinsi Yerusalem mencatat hingga Kamis siang hari sebanyak 4.288 warga Israel telah memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa untuk memperingati Tisha B'Av. Ini merupakan hari berkabung umat Yahudi yang mengenang kehancuran dua kuil Yahudi kuno. Jumlah itu diperkirakan masih bertambah hingga sekitar 5.000 orang sebelum matahari terbenam.

Ben-Gvir memasuki kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan ketat aparat kepolisian Israel. Di dalam kawasan tersebut, para pemukim dilaporkan melakukan ritual keagamaan, termasuk bersujud, bernyanyi, dan berdoa.

Baca Juga: Israel Jangan Ganggu Upaya Damai AS-Iran, Presiden Turki Kecam Serangan ke Lebanon

Kecaman datang dari delapan negara Arab dan mayoritas Muslim, yakni Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab.

Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri negara-negara tersebut mengutuk penyerbuan masal yang dilakukan para pemukim Israel di bawah perlindungan aparat keamanan.

"Tindakan provokatif ini memicu kebencian dan ekstremisme, serta menghambat upaya mewujudkan perdamaian yang adil dan abadi berdasarkan solusi dua negara," demikian bunyi pernyataan bersama tersebut. Mereka juga menilai aksi tersebut merupakan upaya melanggar hukum untuk mengubah status quo historis dan hukum di situs suci Yerusalem.

Baca Juga: Dampak Serangan Iran, AS Jajaki Rencana Relokasi Aset Armada Kelima dari Bahrain ke Israel

Selain itu, delapan negara tersebut menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem yang diduduki maupun situs-situs suci Islam dan Kristen di sana.

Mereka mendesak Israel segera mencabut pembatasan terhadap akses jemaah ke Masjid Al-Aqsa serta meminta komunitas internasional mengambil langkah tegas menghentikan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem.

Dilansir dari The New Arab , Ismail Patel yang merupakan pendiri dan ketua Friends of Al-Aqsa, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Israel sudah berlebih dibanding tahun sebelumnya. Apalagi polisi Israel mengizinkan jamaah untuk berdoa dengan suara lantang, bernyanyi, bersujud, dan mengenakan tefillin di berbagai area kompleks tersebut.

Baca Juga: Serangan Israel ke Iran Tetap Berlanjut, Operasi Militer Israel di Lebanon Belum Berakhir

"Apa yang diizinkan polisi Israel hari ini tidak memiliki preseden sejak tahun 1967," kata Patel.

Pelajar Palestina Dilarang Masuk

Otoritas Palestina menuding pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat di seluruh pintu masuk Masjid Al-Aqsa. Banyak jamaah dan pelajar Palestina dilarang memasuki kawasan tersebut, sementara sebagian lainnya dilaporkan mengalami tindakan kekerasan.

Pemerintah Provinsi Yerusalem menyebut masuknya Ben-Gvir sebagai eskalasi berbahaya yang menunjukkan dukungan pemerintah Israel terhadap kelompok-kelompok yang mendorong perubahan status kawasan suci tersebut. Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga mengecam aksi tersebut. Pemerintah Palestina menilai penyerbuan itu merupakan eskalasi berbahaya yang bertujuan memaksakan pembagian ruang dan waktu di kompleks Al-Aqsa. Mereka menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan hukum atas lokasi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Palestina menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Sementara Hamas, lewat pernyataan resminya, memperingatkan bahwa tindakan agresi yang terang-terangan ini akan berbalik menghantam pendudukan dan para pemukimnya.

LSM Israel Peace Now mengecam penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis lalu. Mereka memperingatkan bahwa aksi tersebut berisiko memicu ketegangan di salah satu situs keagamaan yang paling diperebutkan di dunia. "Kekerasan para pemukim yang terus terjadi memiliki keterkaitan dengan kelompok-kelompok ekstrem yang berupaya menyulut perang agama. Fenomena itu bahkan pernah diakui Perdana Menteri Israel sebagai 'kanker'," tulis Peace Now dalam keterangan resminya. (lyn/gas/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
matahari terbenam keamanan Israel Palestina yerusalem