Ketegangan Selat Hormuz: Trump Beri Ultimatum Terakhir, Iran Tegas Tolak Negosiasi

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 21:15 WIB
Presiden AS Donald Trump (Dok)
Presiden AS Donald Trump (Dok)

LombokPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ultimatum kepada Pemerintah Iran untuk segera menyepakati perjanjian baru terkait program nuklir dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Trump menegaskan bahwa proses perundingan yang dijadwalkan dalam satu hingga dua hari ke depan merupakan kesempatan terakhir bagi Teheran untuk menghindari eskalasi konflik militer yang lebih luas.

Saat memberikan keterangan di Oval Office, Senin (3/8/2026) waktu setempat, Trump menjelaskan bahwa tahap awal negosiasi akan difokuskan pada pembukaan akses Selat Hormuz sebelum beralih ke isu pembatasan senjata nuklir.

"Fase pertama adalah pembukaan selat. Fase kedua adalah denuklirisasi. Itu akan memerlukan waktu," kata Trump sebagaimana dilansir dari The Guardian.

Trump menambahkan bahwa sikap kompromi Washington ada batasnya. "Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik," ujarnya memperingatkan.

Pernyataan tegas Trump tersebut langsung mendapat bantahan keras dari pihak Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada dialog diplomasi langsung yang berjalan antara Iran dan Amerika Serikat.

"Saat ini kami tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat," tegas Baghaei dalam konferensi pers di Teheran.

Baghaei menjelaskan, komunikasi diplomasi yang berjalan saat ini hanyalah diskusi bilateral antara Iran dan Kesultanan Oman. Pembahasan tersebut berfokus pada skema pembentukan jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz guna memastikan kapal-kapal komersial dapat kembali melintas dengan aman hingga rute permanen disepakati.

Dalam dinamika krisis ini, Iran mengusulkan agar lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz lebih dominan menggunakan jalur utara yang berada dekat dengan wilayah teritorialnya. Pihak Teheran juga menolak keras usulan pembagian kuota pelayaran secara seimbang maupun keterlibatan pihak ketiga dalam proses pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut.

Sementara itu, Trump mengklaim dirinya sempat memerintahkan pembatalan serangan militer berskala besar terhadap target di Iran pada akhir pekan lalu. Langkah penundaan tersebut diambil atas permintaan khusus dari Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, yang mendorong agar jalur diplomasi tetap diutamakan.

Kendati demikian, Trump menegaskan bahwa penangguhan opsi militer tersebut sepenuhnya bergantung pada kesediaan Iran untuk segera menandatangani kesepakatan dalam waktu dekat.

Editor : Redaksi Lombok Post
Israel iran Donald Trump