Antisipasi Fenomena El Nino, Singapura Tingkatkan Kewaspadaan Kabut Asap Lintas Batas dari Indonesia

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:28 WIB
Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada Rabu (5/8).
Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada Rabu (5/8).

LombokPost— Pemerintah Singapura meningkatkan kesiapsiagaan nasional guna mengantisipasi potensi paparan polusi udara akibat fenomena cuaca ekstrem. Pemerintah Singapura meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap dari Indonesia menyusul prakiraan cuaca yang lebih kering pada pekan depan.

Risiko kabut asap diperkirakan meningkat apabila aktivitas pembakaran lahan di Kalimantan dan Sumatera bagian selatan semakin meluas.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu mengatakan asap dari Kalimantan dalam beberapa hari terakhir telah bergerak menuju Sarawak. Namun, arah angin yang berlaku masih belum membawa polutan tersebut ke Singapura.

"Pemerintah terus memantau situasi secara ketat. Satuan tugas kabut asap siap mengaktifkan rencana penanganan apabila kualitas udara mulai terdampak kabut asap lintas batas," kata Fu, Rabu (5/8/2026), seperti dilansir dari The Straits Times.

Guna menekan potensi dampak kesehatan masyarakat, otoritas Singapura telah mematangkan berbagai skema mitigasi darurat medis dan infrastruktur penunjang. Fu memastikan stok masker nasional dalam kondisi mencukupi.

Selain jaminan ketersediaan cadangan logistik pelindung diri, fasilitas pelayanan sosial dan pendidikan juga diprioritaskan mendapat perlindungan fisik. Sekolah, lembaga pendidikan anak usia dini, serta fasilitas perawatan dan panti lansia juga telah dilengkapi alat pemurni udara sebagai langkah antisipasi.

Eskalasi mitigasi domestik tersebut menyusul adanya imbauan resmi dari lembaga meteorologi regional. Peringatan tersebut muncul setelah ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus menaikkan status kewaspadaan kabut asap di kawasan Asia Tenggara karena meningkatnya risiko kabut asap lintas batas.

Kondisi atmosferik di kawasan saat ini dinilai memicu peningkatan kerentanan karhutla secara eksponensial. Menurut Fu, kawasan Asia Tenggara kini memasuki musim monsun barat daya yang lebih kering.

Dampak musim kemarau diproyeksikan akan berlangsung lebih panjang seiring dengan menguatnya anomali suhu permukaan laut di Pasifik. Pada tahun ini, kondisi diperkirakan semakin panas dan kering akibat berkembangnya fenomena El Nino.

Bahkan berdasarkan pemodelan iklim global, fenomena penyimpangan cuaca tahun ini berpotensi mencapai intensitas puncak. Sejumlah ilmuwan bahkan memperkirakan El Nino tahun ini berpotensi menjadi kategori sangat kuat atau dikenal sebagai Godzilla El Nino.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
kabut asap kebakaran hutan el nino