Konflik Yaman Memanas dan Jalur Laut Merah Terganggu, AS Tawarkan 48 Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 22:29 WIB
KEMBALI PANAS: Para pejuang Houthi berpose di tengah puingpuing jet tempur F-15 milik Arab Saudi yang ditembak jatuh di
provinsi Marib, wilayah tengah Yaman.
KEMBALI PANAS: Para pejuang Houthi berpose di tengah puingpuing jet tempur F-15 milik Arab Saudi yang ditembak jatuh di provinsi Marib, wilayah tengah Yaman.

LombokPost— Di tengah sengitnya pertempuran antara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melawan kelompok Houthi, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengusulkan penjualan 48 unit jet tempur F-35 kepada Arab Saudi. Nilai potensi transaksi tersebut diperkirakan mencapai 24,3 miliar dollar AS.

Mengutip laporan Al Jazeera, Jumat (18/9/2026), kesepakatan penjualan alutsista bernilai fantastis tersebut masih membutuhkan persetujuan dari Kongres Amerika Serikat.

Jet tempur F-35 buatan Lockheed Martin memiliki fungsi utama melakukan misi superioritas udara, serangan darat, peperangan elektronik, serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR). Pesawat ini dilengkapi dengan teknologi siluman (stealth), sensor canggih, serta sistem penggabungan data terintegrasi.

Pengusulan penjualan jet tempur ini mengemuka setelah kelompok Houthi mengklaim berhasil menembak jatuh jet F-15 milik Angkatan Udara Arab Saudi di wilayah Marib, Rabu (16/9/2026). Kelompok yang terafiliasi dengan Iran tersebut meriis rekaman video yang memperlihatkan puing-puing pesawat buatan AS beridentitas Arab Saudi.

Gangguan Jalur Pelayaran Minyak di Selat Bab el-Mandeb

Eskalasi pertempuran kian mengancam stabilitas kawasan. Kelompok Houthi terus memperluas wilayah kendalinya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan meningkatkan intensitas serangan ke wilayah Arab Saudi.

Kondisi ini membuat Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan salah satu jalur pelayaran strategis pasokan minyak dunia, semakin rentan terhadap gangguan keamanan. Pihak Houthi kini menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman dan merebut sejumlah pulau strategis di sekitar selat tersebut.

Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi kembali menegaskan tuntutan kelompoknya terhadap pemerintah Arab Saudi.

“Kami ingin Saudi menghentikan blokade dan pendudukan terhadap negara kami serta menghentikan agresi terhadap kami. Ini tuntutan kami!" kata Abdul Malik al-Houthi dalam pidato televisi, dikutip dari Al-Monitor.

Bab el-Mandeb merupakan gerbang utama pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Ketegangan di selat ini makin memperrumit krisis energi global, mengingat Selat Hormuz juga berstatus ditutup oleh Iran di tengah konflik dengan AS. Prioritas Iran di Selat Hormuz mencakup desakan pencabutan blokade pelabuhan serta negosiasi skema retribusi pelayaran dengan negara-negara Teluk.

Pemantauan Keselamatan WNI oleh Kemenlu RI

Merespons dinamika geopolitik di Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI terus memantau keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Yaman maupun Arab Saudi.

Juru Bicara II Kemenlu Nabyl Vahd Achmad mengungkapkan bahwa kondisi WNI berdasarkan laporan perwakilan RI di Riyadh, Jeddah, dan Muscat masih relatif terkendali.

“Memang ada sejumlah wilayah di Yaman yang rawan. Namun, khususnya di kawasan Mocha dan sekitarnya, saat ini relatif terkendali,” ujar Nabyl.

Pemerintah Indonesia mencatat terdapat puluhan pelajar yang berada di wilayah Kota Mocha, Yaman. “Ada 77 pelajar, tiga di antaranya yang sudah bisa keluar. Jadi, sisanya 74 pelajar yang masih di sana,” katanya.

Kemenlu mengonfirmasi bahwa hingga saat ini opsi evakuasi belum diperlukan. Kendati demikian, pemerintah terus bersiap menerapkan rencana kontingensi jika situasi keamanan memburuk.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
houthi yaman Arab Saudi iran F-35