Konflik Yaman Memanas, Pesawat Militer Inggris Bantu Pengisian Bahan Bakar Jet Tempur Arab Saudi

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 23:49 WIB
KEMBALI PANAS: Para pejuang Houthi berpose di tengah puingpuing jet tempur F-15 milik Arab Saudi yang ditembak jatuh di
provinsi Marib, wilayah tengah Yaman.
KEMBALI PANAS: Para pejuang Houthi berpose di tengah puingpuing jet tempur F-15 milik Arab Saudi yang ditembak jatuh di provinsi Marib, wilayah tengah Yaman.

LombokPost— Eskalasi konflik di Yaman kembali memasuki fase krusial seiring meningkatnya dinamika militer serta keterlibatan kekuatan asing di kawasan tersebut. Di tengah desakan para menteri luar negeri negara-negara anggota G7 agar Iran menghentikan pasokan senjata dan dukungan kepada kelompok Houthi, Inggris dan Amerika Serikat (AS) justru memperkuat dukungan pertahanan militer untuk Kerajaan Arab Saudi.

G7—yang beranggotakan AS, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, Kanada, dan Jepang—mengecam keras intensifikasi serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi yang mendukung pemerintah resmi Yaman.

“Meningkatnya eskalasi itu ancaman terhadap keamanan regional dan global,” bunyi pernyataan bersama para menteri luar negeri G7, Selasa (22/9/2026).

Pertempuran di Yaman mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir akibat maraknya serangan lintas perbatasan oleh kelompok Houthi. Lonjakan kekerasan ini memicu krisis kemanusiaan baru dan memaksa lebih dari 120.000 warga sipil Yaman mengungsi. Kondisi tersebut merusak stabilitas relatif yang sempat terbangun sejak PBB memediasi kesepakatan gencatan senjata pada 2022.

Dukungan Pertahanan Udara Inggris

Meningkatnya ancaman keamanan di sekitar jalur distribusi minyak strategis, termasuk pergerakan Houthi yang mendekati Selat Bab al-Mandab, mendorong pemerintah Arab Saudi mengajukan permohonan bantuan militer resmi kepada Inggris.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengonfirmasi bahwa pemerintahannya telah menyetujui permintaan Riyadh guna memperkuat sistem pertahanan udara kawasan.

“Kami menerima permintaan dari Arab Saudi untuk dukungan militer dan saya menyetujui permintaan tersebut untuk pengisian bahan bakar udara-ke-udara defensif,” kata Burnham.

Sebagai bentuk realisasi komitmen tersebut, Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) mengerahkan pesawat tanker RAF Voyager untuk memfasilitasi pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) bagi jet-jet tempur Arab Saudi selama beberapa pekan ke depan. Operasi ini ditujukan untuk mengamankan infrastruktur energi vital Arab Saudi dari potensi serangan Houthi.

Langkah ini memperluas kehadiran militer Barat di kawasan, melengkapi pengerahan sistem pertahanan udara Sky Sabre oleh Inggris sebelumnya, serta rencana potensi penjualan 48 unit pesawat tempur siluman F-35 oleh AS ke Arab Saudi senilai 24,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 431,5 triliun).

Urgensi Jalur Strategis Bab al-Mandab

Selat Bab al-Mandab memiliki nilai geo-ekonomi yang sangat krusial bagi Arab Saudi dan perdagangan internasional sebagai jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Gangguan operasional pada jalur pelayaran ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi dan perekonomian global.

Dalam penyataan resminya, negara-negara anggota G7 mendesak Houthi untuk segera menghentikan seluruh operasi militer, ancaman terhadap pelayaran sipil, serta mengimbau semua pihak untuk kembali ke jalur negosiasi politik.

G7 menegaskan komitmennya dalam mendukung kedaulatan, independensi, dan integritas wilayah Yaman guna mencegah meluasnya dampak perang saudara yang telah berlangsung lama tersebut.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
houthi yaman Arab Saudi iran