12 Orang Tewas, 309 Terluka, KBRI Pastikan Tidak Ada WNI Jadi Korban

Kimda Farida • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:21 WIB
Arab Saudi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka
Arab Saudi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka

 

LombokPost--Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali diserang. Pada Sabtu (10/10) waktu setempat, serangan yang diduga dilancarkan kelompok Houthi menewaskan sedikitnya 12 orang dan 309 orang lainnya luka-luka.

Sebelumnya, bandara tersebut juga diserang pada Rabu (7/10) malam hingga Kamis (8/10) dan menewaskan tiga orang, termasuk satu pilot.

      Menurut laporan Reuters dan AFP, serangan tersebut memicu kepanikan luar biasa.

Pejabat regional mengonfirmasi bahwa rudal balistik Houthi menghantam area Terminal penumpang 3 dan 4.

Terminal tersebut merupakan pusat keberangkatan dan kedatangan untuk penerbangan domestik yang saat itu sedang dipadati oleh penumpang.

”Saya sedang berada di gate 403,” ungkap saksi seperti diwartakan AFP Ahad (11/10). Dia melihat area gate 401 terkena hantaman dan banyak orang terluka di depan matanya.

Otoritas setempat mengabarkan korban tewas bukan hanya warga Arab Saudi.

Tetapi, juga warga negara asing, bahkan ada seorang warga Amerika Serikat.

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026: SDM Lokal Mendunia, Gerakkan UMKM dan Pariwisata NTB

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi (General Authority of Civil Aviation/GACA) menangguhkan seluruh penerbangan.

Juga mengalihkan pesawat yang akan mendarat di Riyadh ke bandara lain.

Kelompok Houthi yang bermarkas di Yaman dengan lantang mengklaim bertanggung jawab penuh atas serangan rudal balistik tersebut.

Pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menegaskan bahwa serangan pada Sabtu (10/10) siang itu merupakan bentuk balasan atas operasi udara Saudi di Yaman.

Dia menuduh Riyadh telah menghancurkan infrastruktur sipil Yaman selama belasan tahun.

      ”Operasi militer kami jauh di dalam entitas Saudi akan terus berlanjut dan tidak akan berakhir,” ancam al-Bukhaiti seperti dikutip dari pantauan Al-Jazeera. Ancaman tersebut secara spesifik menyasar fasilitas militer, bandara, pelabuhan, dan instalasi vital lainnya.

      Juru Bicara Koalisi Militer Pimpinan Arab Saudi Brigadir Jenderal Turki al-Malki menyampaikan bahwa pihak kerajaan tidak akan tinggal diam atas aksi terorisme yang menyasar bandara.

”Serangan pengecut yang menargetkan bandara sipil dan warga tak berdosa ini adalah kejahatan perang yang nyata,” tegas Brigjen Turki al-Malki dikutip dari kantor berita Saudi Press Agency.

      Dia menambahkan, sistem pertahanan udara memang telah mengintersepsi beberapa proyektil.

Baca Juga: Silaturahmi Gubernur NTB dan NTT Bersama Relawan Kemanusiaan, Perkuat Persaudaraan Dua Daerah

Namun, pecahan dan dentuman hebat tak terelakkan di area terminal.

Respons Amerika Serikat

      Kabar tewasnya warga Amerika Serikat dalam serangan di Bandara Riyadh ini langsung membuat Presiden AS Donald Trump naik pitam.

Dia memberikan sinyal kuat bahwa militernya siap turun tangan membantu Saudi menggempur basis Houthi.

”Kami bergerak sangat cepat. Apa yang terjadi di Arab Saudi itu sama sekali tidak dapat diterima,” jelas Trump dikutip dari Reuters.

Imbauan untuk WNI di Saudi 

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh mengimbau warga Indonesia menjauhi area bandara serta berbagai objek vital lainnya.

”Hindari bepergian ke wilayah Bandara Internasional Raja Khalid dan tunda seluruh perjalanan yang tidak mendesak hingga otoritas keamanan setempat mengeluarkan status aman,” tegas pihak KBRI Riyadh dalam keterangan tertulisnya.

Baca Juga: BIZAM Lombok Terapkan Tarif Parkir Flat khusus Selama MotoGP

      Hingga Ahad (11/10), pihak KBRI mengonfirmasi bahwa tidak ada WNI yang menjadi korban tewas maupun luka dalam insiden nahas tersebut.

 Belum Ada Pembatalan Umrah

 Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi mengungkapkan, sejauh ini belum ada pembatasan penerbangan Umrah ke Saudi.

Pembatalan atau penjadwalan ulang keberangkatan jemaah umrah juga sangat merugikan penyelenggara.

      ”Itu sama saja dengan kita bunuh diri, karena itu akan terkena cancellation (biaya pembatalan), baik pesawat maupun hotel dan lain-lainnya,” tegas Syam Ahad (11/10).

      Sekjen Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Ahmad Zaky Zakaria Ansyary menyebut, selama pemerintah Saudi atau GACA masih membuka penerbangan ke Jeddah, penyelenggaraan umrah dari Indonesia berjalan normal termasuk Ahad (11/10).

”Sampai saat ini (Ahad, Red) kita belum ada himbauan internal,” katanya.

      Sangat jarang jamaah Indonesia mengambil rute penerbangan umrah dengan transit di Bandara Riyadh.

Biasanya mereka mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah atau Bandara Pengeran Mohammad bin Abdulaziz di Madinah.

Baca Juga: BSI Bantu Kebangkitan Desa Adat Sade, Dukung Pariwisata Halal Mandalika

Hanya ada sebagian kecil yang transit ke Riyadh. Itu pun hanya untuk memanfaatkan promo tertentu saja. (wan/jun/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
Bandara Riyadh serangan Houthi yaman Arab Saudi Donald Trump