Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Titik Nol, Ketua REI NTB H Heri Susanto Pilih Terbang Landai

Redaksi LombokPost • Kamis, 28 Mei 2020 | 15:18 WIB
BINCANG VIRTUAL: Direktur Lombok Post Alfian Yusni (kanan) berdiskusi dengan Ketua REI NTB H Heri Susanto, Rabu (20/5).
BINCANG VIRTUAL: Direktur Lombok Post Alfian Yusni (kanan) berdiskusi dengan Ketua REI NTB H Heri Susanto, Rabu (20/5).

MATARAM-Program Titik Nol Lombok Post episode ketiga menghadirkan Ketua REI NTB H Heri Susanto. Ia memulai bisnis properti sejak tahun 2008, dan sektor ini belum banyak tantangan dengan permintaan yang masih tinggi. ”Kala itu masa kejayaan property, hingga awal tahun 2014,” katanya mengawali dialog virtual dengan Direktur Lombok Post Alfian Yusni di Program Titik Nol, Rabu (20/5).


Setelah 2014, karena pergantian kekuasaan, sejumlah hal berubah. Pada masa itu, pengusaha jelas memilih wait and see. ”Ya ada turbulence di masa itu untuk bisnis properti,” terangnya.


Kabar baiknya ada program rumah subsidi yang membantu. Program ini awalnya tidak banyak dilirik pengembang, karena permintaan rumah komersil masih banyak kala itu. Belakangan rumah subsidi terus naik daun.


Pada 2014, program ini menopangan secara nasional hingga 20 persen. Tahun selanjutnya 2015-2016 rumah subsidi menopang 50 persen sektor properti. Sampai 2018 betul-betul menguasai hingga 90 persen nasional. ”Sedangkan untuk NTB kontribusi program rumah subsidi diatas 90 persen, karena rumah komersil benar-benar stagnan,” jelasnya.


Dikatakan, semua bisnis ada masa naik dan turunnya. ”Saat ini teman-teman properti lagi mengalami badai. Apalagi badai ini untuk semua elemen usaha,” tambahnya.


Dalam pengembangan sektor ini harus ada win win solution. Yang terpenting perusahaan tetap jalan. Ibarat pesawat, tak mengapa terbang rendah, asal selamat. ”Tujuan saat ini juga bisa dikatakan belum jelas, karena sampai saat ini tidak ada yang memastikan krisis yang diakibatkan Covid-19 sampai kapan,” terangnya.


Diterangkan, REI NTB terdiri dari 79 pengembang. Yang aktif tersisa 17 pengembang, karena sudah digerogoti sejak 2014 lalu. ”Tidak aktifnya anggota REI NTB dengan berbagai alasan,” tambahnya.


Dalam kass NTB terkait pandemi, pihaknya melihat ekonomi mikro masih bergeliat. ”Jadi masih ada optimis untuk di NTB,” tuturnya.


Pada momen ini sarannya, ekspektasi jangan terlalu tinggi. Pengusaha juga harus bersiap menata langkah berikutnya. Kata kuncinya adalah menyesuaikan diri. Tak kalah penting, menjaga hak dan kewajiban kepada karyawan. ”Karyawan ini adalah aset yang tidak bisa dihargakan,” imbuhnya.


Direktur Lombok Post Alfian Yusni mengapresiasi titik tekan karyawan sebagai asset. Menolong orang terdekat dalam hal ini karyawan harus dilakukan. ”Dalam menghadapi semua ini sekarang, yang penting bisa bertahan,” kata dia. (nur/r9)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Titik Nol #REI NTB #Heri Susanto