Dikatakannya, Gramedia memang masih minim pengunjung. Larangan sekolah secara tatap muka menjadi salah satu faktor. Juga, kondisi ekonomi masyarakat akibat Korona yang belum pulih.
”Biasanya, pengunjung dalam sehari bisa mencapai 400-500 orang. Apalagi di momen tahun ajaran baru. Saat ini justru minim sekali,” katanya.
”Masyarakat tentu lebih mengutamakan kebutuhan primernya. Sehingga kebutuhan sekunder serta tersier seperti ini jadi sektor yang masih dikesampingkan dahulu,” tambahnya.
Dibandingkan Juli 2019, kunjungan pembeli saat ini hanya 30 persennya saja. Menyiasati hal tersebut pihaknya mencoba meminimalisir segala bentuk pengeluaran. Seperti mengurangi operasional lampu toko, lift, hingga penggunaan AC. ”Meski saat ini pengunjung mulai bertambah sejak aturan new normal, tapi kita tetap lakukan cara ini sebagai cara survive,” ujarnya.
Pihaknya juga tidak menutup akses bagi penerbit yang ingin memasarkan bukunya ke Gramedia. Kendalanya justru datang dari pihak percetakan yang masih belum berani membuka jasanya. ”Kalau kita ya terbuka saja. Tapi pihak percetakan kebingungan untuk perputaran arus kasnya bagaimana,” jelasnya.
Selain diskon yang rutin diadakan, Gramedia juga menyediakan layanan pesan antar buku ke rumah konsumen. Melalui customer service officer (CSO) maupun Instagram Gramedia. Layanan ini gratis khusus wilayah sekitar Kota Mataram. Untuk kabupaten lain akan dikirim melalui ekspedisi. ”Pembayarannya juga bisa via transfer bank, maupun COD atau bayar di tempat saat pesanannya datang,” jelasnya.
Selama Maret pesanan secara online membludak. Namun, seiring penerapan new normal, konsumen lebih memilih datang langsung.
Menurut Ahmad, salah seorang pengunjung yang datang bersama ketiga anaknya, meski saat ini larangan belajar tatap muka dilarang, namun bukan berarti pembelajaran di rumah juga harus terhenti. ”Jadi tetap harus ada buku yang dibaca untuk meningkatkan literasi anak,” katanya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida