Ini adalah bisnis yang dirintis sejak April lalu, akibat keprihatinan atas terbatasnya aktivitas masyarakat selama masa pandemi.
”Kalau swasta nasional ada JNE dan JNT, Indonesia punya Pos, Lombok punya Jelap.Id,” kata Pemilik Jelap.Id Ade Rohman, kepada Lombok Post, Rabu (29/7/2020).
Jelap.id menggandeng dua kurir untuk masing-masing kabupaten. Teknisnya, kurir akan menjemput sendiri paket ke rumah pelanggan hingga pukul 13.00 WITA. Setelahnya, barulah paket akan dikirim ke masing-masing kabupaten tujuan di hari yang sama. Tarif pengiriman paket tujuan Kota Mataram Rp 8.000. Tujuan Lombok Tengah dan Lombok Barat Rp 15.000, sedangkan Lombok Timur dan Lombok Utara Rp 20.000. Untuk wilayah terjauh, pihaknya akan bertemu di tengah-tengah kawasan pihak penerima paket.
”Untuk wilayah Lotim, maksimal bertemu di Aikmel. Loteng di Batujai, dan Loteng di Gerung. Sedangkan KLU pengirimannya hanya di Hari Rabu dengan rute terjauh bertemu di Gangga,” jelasnya.
Pihaknya juga membidik segmen pasar para UMKM. Menurutnya, selama ini perusahaan kargo lokal kebanyakan menerima paket besar atau dalam jumlah banyak. Belum ada yang memfasilitasi UMKM untuk menjual sedikit barang hingga ke kabupaten lain. Karenanya Jelap.id juga menerima pengiriman cash on delivery (COD) paket. Artinya, pihaknya yang akan membayar harga barang ke penjual terlebih dahulu. Setelah paket diterima, barulah pembeli yang akan membayar ke kurir Jelap.id. ”Sejak awal muncul, Jelap.id mendapat sambutan yang positif dari masyarakat, terutama para UMKM. Apalagi saat momen menjelang lebaran, pesanan membludak sekali. Karena larangan mudik dan akses terbatas untuk saling memberi ke sanak keluarganya yang jauh,” ujar pria asal Jakarta ini.
Dalam sehari Jelap.Id bisa menerima ratusan paket. Membludaknya pesanan, membuatnya akan memberlakukan dua layanan. Yakni paket Express untuk paket dikirim di hari yang sama. Dan paket Reguler untuk sampai di hari esoknya.
”Tujuannya untuk meningkatkan kualitas, dan pelanggan punya beragam pilihan sesuai kebutuhannya. Sekaligus menyesuaikan dengan jumlah kurir yang tersedia,” katanya.
Ia menegaskan, Jelap.Id berbeda dengan jasa kurir makanan pada umumnya. Karena pihaknya lebih fokus pada pengiriman paket berupa barang. ”Serupa tapi tak sama. Kedepannya mungkin akan kami berlakukan tapi saat ini masih proses validasi dulu,” ujarnya.
Omzet yang diterimanya Rp 15.000.000 – Rp 20.000.00 per bulan. Namun, kata dia, sebagian besar keuntungannya terpakai untuk menutup biaya operasional bulanan. Sekaligus memaksimalkan proses perintisan usaha tersebut. Terlebih, hingga kini Jelap.Id belum pernah melakukan publikasi secara resmi. ”Seperti legalitas ke dinas dan membangun kantor perwakilan agen di masing-masing kabupaten. Juga menambah kurir dan ragam pekerjaan lainnya,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan NTB, Lalu Bayu Widya sangat mengapresiasi kehadiran para pengusaha jasa pengiriman lokal. ”Mereka membantu aktifitas suplai dan distribusi logistik terus lancar,” katanya.
Menurutnya, momen pandemi membuat pola hidup masyarakat berubah. Jasa pengiriman paket maupun makanan, dianggap sebagai solusi mengatasi masalah tersebut.
”Sangat dibutuhkan dang hasilnya sangat positif. Usaha serupa juga dapat menghidupkan beragam sektor UMKM,” ujarnya antusias. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida