Pihaknya pun tak bisa berbuat banyak. Cara bertahan hanya dengan melakukan promo banting harga besar-besaran. Ia berharap masyarakat lokal meningkatkan kegiatan pertemuan sesuai protokol kesehatan di hotel. Sembari menunggu pulihnya kepercayaan para wisatawan luar NTB. ”Pemerintah sudah mengeluarkan rekomendasi agar kegiatan dilakukan di hotel. Namun, persoalannya masyarakat masih banyak yang takut. Sehingga upaya ini tidak memberikan perubahan signifikan bagi kami,” jelasnya.
GM Hotel Lombok Raya ini pun berharap, ada perpanjangan relaksasi untuk industri perhotelan. Termasuk subsidi ataupun bantuan modal. Namun yang terjadi justru penarikan kembali pajak hotel dan restoran. ”Sudah berlaku sejak September, SK juga sudah keluar. Dipikir okupansi sudah kembali normal karena hotel dan restoran sudah mulai beroperasi,” katanya.
Padahal, hari libur pun peningkatan hanya terjadi di beberapa kawasan, terutama Senggigi. ”Tagih saja, yang ditagih tidak ada uangnya. Mau salahkan siapa? Selama masa pandemi ini mohon dimengerti lah,” kesalnya.
Pandu Samudera, Executive Lounge di salah satu hotel berbintang di Bali menuturkan, PSBB di ibu kota juga memberikan dampak signifikan pada okupansi hotelnya. Pada Bulan Juli hingga September awal, pendapatan mulai membaik. Dikhawatirkan, pendapatan hotel yang ia kelola akan menurun kembali pada Oktober nanti. ”Selama ini kita menarget wisatawan domestik, khususnya Jakarta. Namun dengan pemberlakuan PSBB ini, tentu kondisi kami yang sudah membungkuk kini jadi makin tiarap,” ujarnya.
Pihaknya berharap, situasi segera kembali normal. Perhelatan Moto GP di Lombok diharapkan ikut memberi percikan kebangkitan perekonomian di pulau dewata. ”Tak hanya bagi perhotelan, bahkan semua sektor industri di Indonesia bisa merasakan dampaknya,” ujarnya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida