”Biasanya pada momen ini, jumlah pengiriman JNE meningkat hingga lebih dari 30 persen,” katanya.
Kendati pandemi, bisnis logistik JNE cenderung normal. Itu sejalan jumlah barang kiriman yang meningkat. Penyebabnya, perubahan daya beli masyarakat yang berubah drastis dari offline ke online. Sehingga menumbuhkan optimisme industri logistik untuk tetap menopang perekonomian masyarakat. Meski diakui pihaknya sempat mengalami penurunan pada awal pandemi.
”Pertumbuhan kami tetap konsisten 30 persen per tahun sejak tahun 2010. Begitu pun masa pandemi, pertumbuhannya masih dapat mencapai lebih dari 30 persen,” jelasnya.
NTB sendiri punya ”JNE versi lokal” dengan kehadiran Jelap.Id. Ade Rohman, pemilik Jelap.Id mengatakan, peningkatan jumlah pengiriman memang terjadi pada momen Harbolnas. Jumlah peningkatan pengiriman mencapai 50 persen. Kliennya pun didominasi UMKM lokal. ”Hari biasa hanya 100 pengiriman dalam sehari, momen Harbolnas selama seminggu ke belakang pengiriman kami bertambah sekitar 150 lebih,” ujarnya.
Berkaca dari membludaknya pesanan saat momen Harbolnas inilah, ia berusaha untuk lebih dulu meningkatkan kualitas pelayanan. Jika skema atau formula teknis sudah sesuai, barulah pihaknya berani membuka pesanan lebih banyak. ”Karena jasa pengiriman selalu dibutuhkan seiring digitalisasi,” katanya.
Jelap.Id saat ini terus berkembang sesuai harapan. Tidak terlalu cepat tapi tidak juga jalan di tempat. Omzet pun terus bertambah. ”Sesuai perkembangan daya beli dan perekonomian masyarakat,” katanya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida