GIRI MENANG-Hasil produksi madu dari budi daya lebah trigona menjadi primadona dalam masa pandemi ini. Hal tersebut diungkapkan Zulhadi, ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Madu Sekotong alias Maskot.
Budi daya lebah trigona diyakini mampu memberikan hasil keuntungan yang lumayan. ”Bisa jadi sumber penghasilan dan sarana wisata baru,” katanya.
Menurutnya, harga jual madu yang dihasilkan oleh lebah trigona jauh lebih tinggi dibanding madu lebah lainnya. Diikuti tingkat permintaan pasar untuk komoditas ini yang juga tinggi. Dari 450 koloni lebah miliknya saja, ia bisa menghasilkan pendapatan Rp 6.750.000 per bulan.
Jumlah tersebut terhitung yang paling sedikit dengan produktivitas juga terbatas saat musim penghujan. Namun saat musim kemarau seperti sekarang, tentu hasilnya bisa berkali-kali lipat.
Total koloni lebah madu trigona yang ada di bawah naungan KTH sekitar 1.500. Anggotanya yang berjumlah 25 orang pun memiliki jumlah koloni yang bervariasi. Mulai 20-500 koloni. Masing-masing koloni dibagi per bagian yang dipanen bergilir setiap bulan. Sehingga meski pun hasil panen per bulan terhitung kecil namun keberlanjutan tetap terjaga. Saat kemarau, produksi bagus bisa dipanen 500 ml sampai 1,5 liter madu.
”Sedangkan musim hujan produksinya turun dengan permintaan yang banyak sehingga harga cenderung lebih mahal,” jelas Zul.
KTH Maskot mengemas madu trigona dalam dua kemasan. 250 ml seharga Rp 110 ribu dan 500 ml seharga Rp 200 ribu. Pihaknya mengaku pasar lebah madu trigona ini justru lebih dulu digemari wisatawan mancanegara. Sebab banyak anggota yang dulunya merupakan pekerja di sektor pariwisata seperti travel. Sehingga madu ini kerap dijadikan buah tangan wisatawan.
Kini, pandemi membuat mereka harus merubah target pasar ke arah lokal. Persentase penjualan pun meroket 75-80 persen. Atau sekitar 5-10 liter mampu terjual per bulan. ”Tidak sulit pasar tingkat lokal juga domestik,” katanya.
Kedepan, diharapkan Sekotong bisa menjadi lokasi eduwisata. Wisatawan yang berkunjung tak hanya menikmati pantai dan laut, tapi juga menimba ilmu pembudidayaan madu trigona. Mulai dari cara peliharaan sebelum, saat, hingga pasca panen, pengemasan, hingga pemasaran. Serta menikmati hasil panen madunya sendiri. Kedatangan wisatawan sepanjang perhelatan event internasional bisa menjadi ancang-ancang. ”Hanya saja masih terkendala dana,” imbuhnya.
Untuk itu, peningkatan kapasitas para pembudidaya terus digenjot. Begitu pun membentuk pembudidaya baru demi menigkatkan hasil produksi. Melalui program edukasi, pelatihan peningkatan kualitas dan kompetensi, hingga pendampingan untuk memberikan madu berkualitas. Serta cara panen yang lebih modern agar hasil panen lebih maksimal juga proses pengemasan yang menarik. Disisi lain, edukasi tingkat masyarakat, kerja sama pemerintah, dan swasta juga dilakukan.
”Potensi besar jika tidak terkelola dengan baik maka hasilnya tak akan maksimal,” tegas Lalu Mustawil, sekretaris Perkumpulan Perlebahan Lombok Raya (Plora) Mataram. (eka/r9)
Editor : Galih Mps