Industri baja nasional yang mandiri diharapkan mampu mendukung tumbuhnya perekonomian nasional. Salah satu strategi yang perlu dilakukan adalah dengan metode Three Circular Economy. Itu merupakan strategi melalui peningkatan produksi dalam negeri, konsumsi produk dalam negeri, penurunan impor serta adanya investasi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur logam Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian Budi Susanto mengungkapkan, Kemenperin sudah memiliki rencana induk pengembangan industri besi dan baja nasional. Blueprint tersebut dibuat berlaku dari 2015 hingga 2035. Pada rencana tahap dua (2020-2024) target kapasitas produksi industri baja nasional pada 2024 ditargetkan sebesar 17 juta ton.
“Pada April 2021 sudah mencapai 11,7 ton, targetnya sampai akhir 2021 ini 11,9 juta ton. Jadi kita sekarang masih kekurangan 0,2 juta ton,” ujar Budi dalam diskusi Infrastructure Connect Digital Series 2021 dengan tema Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, pada Kamis (7/10).
Budi optimistis target tersebut dapat tercapai pada tahun ini.”Mudah-mudahan dengan beroperasinya fasilitas LSM dari Gunung Rajapaksi yang 11 juta ton ini nanti bisa terpenuhi. Kemudian Cilegon karena sudah disebut sebagai kota baja kita canangkan ada cluster 10 juta ton. Ini merupakan bagian dari yang 17 juta ton. Jadi mudah-mudahan juga bisa terpenuhi, ” ungkapnya.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus lalu, sektor konstruksi yang membutuhkan banyak baja dan besi sebagai material konstruksi bertumbuh 4,42 persen. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya realisasi belanja pemerintah untuk konstruksi yang mengalami kenaikan sebesar 50,52 persen. Kemudian kebijakan Pajak Penjualan untuk Barang Mewah (PPnBM) untuk otomotif.
”Kebijakan ini juga mendorong pemakaian baja juga yang pada akhirnya meningkatkan impor besi dan baja,” sebutnya.
Dikesempatan yang sama, Vice Presiden Tatalogam Group Stephanus Koeswandi mengatakan, ekonomi nasional bisa meningkat jika ada beberapa faktor pendukung seperti investasi, konsumsi, ekspor/impor dan kemajuan teknologi. “Ekonomi nasional bisa meningkat kalau ada investasi, adanya konsumsi, dan juga ekspor impor, Kemudian yang terakhir percaya teknologi. Dengan pengaplikasian industry 4.0 pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin cepat lagi,” terangnya.
Namun demikian, pimpinan perusahaan baja ringan terbesar di Indonesia itu melanjutkan, saat ini masih ada beberapa permasalahan yang bisa menjadi batu sandungan dalam menggapai tujuan kemandirian baja nasional sekaligus mengancam keselamatan jiwa penggunanya di Tanah Air.
“Sekarang banyak masuk (dari luar negeri) baja di bawah 0,2. Baja ketebalan inti 0,18 – 0,17 – 0,16. Ini banyak kami temukan dari bangunan, gedung sekolah yang ambruk. Produsen dalam negeri tidak mungkin membuat baja dengan ketebalan seperti ini, karena semua baja yang diproduksi harus sesuai dengan SNI,” cetusnya.
Menurut dia, ada lima strategi yang bisa dilakukan guna mencapai kemandirian industri baja nasional. Pertama, menegakkan standar yang tegas dan wajib, khususnya untuk SNI dan meningkatkan TKDN. Kedua, peningkatan investasi industri baja yang mengedepankan teknologi ramah lingkungan.
“Pemerintah harus lebih selektif terhadap penanam modal asing (PMA). Kalau tidak disaring kita nanti akan menerima mesin bekas yang tidak ramah lingkungan, yang tidak sustainable,” lanjutnya.
Ketiga, pelibatan UMKM secara masif untuk meningkatkan industri kecil di pelosok-pelosok. Pelaku UKM/IKM harus dibekali dengan pelatihan-pelatihan dan sertifikasi agar mereka lebih berkembang. Keempat, meningkatkan ekspor. “Ekspor ini sudah kami lakukan sejak tahun lalu,” sambungnya.
Kelima, strategi metode inovasi CPM yaitu channel, product, marketing. Channel adalah cara distribusi dari pabrik hingga ke tangan pelanggan yang mengadopsi digital channel dan juga pelibatan UKM. Inovasi product tidak boleh berhenti, dan marketing harus dapat menyentuh langsung ke pelanggan. (JPG)
Editor : Galih Mps