MATARAM-Minyak goreng menjadi komoditas yang perlu mendapat perhatian lebih. Dibarengi kabar kenaikan harganya di pasaran, permintaan juga berpotensi mengalami kenaikan jelang natal dan tahun baru.
”Pemda harus menjaga pasokan stok untuk menjaga kestabilan harga supaya jangan naik terus,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTB Bidang Perdagangan Agus Mulyadi, Senin (1/11).
Menurutnya, permintaan yang tinggi tentu harus dibarengi stok. Untuk itu, UMKM atau pedagang minyak goreng lokal diharapkan bisa berinovasi mencari peluang menarik pasar baru. Misal, para pedagang minyak goreng curah mulai melakukan pengemasan yang baik layaknya minyak goreng pabrikan yang menggunakan kemasan. Hal ini sesuai (Permendag) Nomor 36 Tahun 2020 tentang Minyak Goreng Wajib Kemasan.
Jika minyak di pasaran serentak menggunakan kemasan, dapat menaikkan nilai jual. Juga tak kalah dengan minyak goreng pabrikan, namun dengan harga yang lebih mampu bersaing.
”Ini inovasi yang layak dicoba, sebagai alternatif baru yang dapat dipilih konsumen, produk lokal juga bisa naik kelas,” katanya.
Dengan catatan, minyak goreng jenis ini telah melalui sederet persyaratan legalitas dan izin edar oleh BPOM, MUI, PIRT dan sebagainya. Itu untuk menjamin kualitasnya bisa dikonsumsi masyarakat luas. ”Ini sebagai batasan agar tak semua orang seenaknya mengedarkan,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB Fathul Gani mengatakan, per 1 November ketersediaan minyak goreng mencapai 170,25 ton. Sementara kebutuhan mingguan masyarakat hanya 58,66 ton. Harganya pun cenderung naik Rp 2-3 ribu di pasaran. Normalnya harga minyak goreng kemasan Rp 14 ribu per liter. Kini menjadi Rp 16-17 ribu per liter. Sementara minyak curah, harganya Rp 17 ribu per liter. ”Disebabkan permintaaan minyak goreng sempat melonjak 10 persen selama maulid, terutama di Lobar dan Lotim,” katanya.
Upaya antisipasi, melakukan gelar pangan murah di sejumlah titik lokasi masing-masing kabupaten/kota. Untuk ketersediaan stok minyak kemasan pabrikan sendiri diperlukan kemudahan distribusi. Baik meminimalisir penyekatan maupun kondisi cuaca yang mulai memasuki musim penghujan. ”Kalau cuaca memang tak bisa dihindari. Tapi untuk penyekatan kita harap muatan yang mengangkut bahan pokok tak perlu terkendala,” katanya. (eka/r9)
Editor : Galih Mps