Sebanyak 32.000 kubik kayu tersedia untuk diproduksi menjadi barang mebel setengah jadi alias bukan gelondongan. Saat ini produk tengah dalam proses pengerjaan untuk kemudian finishing bentuk akan dilakukan di negara tujuan. Pasar untuk produk mebel di China sedikit berbeda dengan Indonesia yang biasanya langsung membeli prpduk sudah jadi. Di sana, mebel akan dibuat sesuai pesanan konsumen, diukur sendiri dan barulah dibuat. Sehingga produk kayu setengah jadi lebih dibutuhkan dibanding produk jadi.
”Ekspor dalam bentuk setengah jadi pun sudah memiliki value yang tak sedikit bagi pendapatan daerah,” papar Samsul.
China mengimpor produk Kayu sonokeling karena kualitasnya yang mumpuni. Belum lagi motifnya yang indah secara alami. Nilai ekspornya mencapai Rp 10 miliar. Ia memproyeksi potensi ekspor kayu sonokeling mampu lebih besar pada 2022 dan beberapa tahun yang akan datang. Sejumlah calon buyer lainnya juga mulai membuka komunikasi. Meski demikian, sesuai arahan industrialisasi pemda, PT GNE pun kini tengah berupaya membangun industri pengolahannya. ”Kita upayakan menyasar potensi pemasukan dengan nilai ekonomi yang lebih besar lagi,” ujarnya optimis.
Edy Fikri, dirut PT Cahaya Ramadan Sejahtera dari anak perusahaan GNE menegaskan, kayu yang diambil bukan berasal dari hutan lindung. Untuk mengimbangi pengambilan kayu sonikeling, pihaknya juga memprogramkan penanaman ulang agar industrialisasi tetap berjalan tanpa merusak lingkungan. ”Satu kali ekspor dilakukan, maka penanaman akan dilakukan dua kali lipat dari jumlah kayu yang dieskpor,” katanya. (eka/r9)
Editor : Wahyu Prihadi