MATARAM-Pekan pertama Januari 2022 diwarnai dengan kenaikan harga sejumlah barang. Dampak ini pun tentu dirasakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Ongkos produksi jadi lebih mahal, sedangkan harga jual tidak mungkin dinaikkan. ”Ini ibarat gelombang tsunami baru di awal tahun bagi para pelaku UMKM,” kata Ajeng Roslinda, sekretaris Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) NTB, Rabu (5/1).
Dikatakan, saat ini banyak sekali komponen yang mengalami kenaikan harga. Selain harga bahan baku, kemasan juga mulai sulit ditemukan. Kemasan yang ada saat ini, belum tentu ada pekan depan. Jika pun ada, harganya melambung sangat tinggi. Alhasil sejumlah produk harus kerap kali berganti kemasan mengikuti stok yang ada. Pihaknya pun sudah mencoba memanfaatkan keberadaan Balai Kemasan yang disiapkan pemda bagi UMKM. Namun stoknya jelas tak selengkap stok yang ada di toko-toko pengusaha lokal besar.
”Jadi kita biasa mencari di Bertais, Cakranegara, Karang Jangkong, dan lainnya,” katanya.
Biaya bahan bakar minyak dan energy juga dikeluhkan. Ini tentu menjadi salah satu komponen biaya pokok yang tentu dipakai semua pelaku industri. Salah satunya anggota dari kalangan pelaku usaha abon ikan. Saat ini banyak nelayan yang kesulitan melaut karena kenaikan harga bahan bakar untuk menjalankan perahunya. Sementara dari lokasi bahan baku ke tempat produksi pun membutuhkan bahan bakar yang tak sedikit.
UMKM juga saat ini tengah mengeluhkan sulitnya mencari elpiji melon tiga kilogram untuk proses produksi. Kenaikan dan kelangkaan tersebut membuat sebagian UMKM memilih menghentikan sementara penjualan dan proses produksi sampai kondisi kembali pulih. ”Jika tidak, kita harus jualan produk dengan kenaikan harga sampai 100 persen. Pasar tentu tak akan mau beli,” keluhnya.
Padahal saat ini tak sedikit pelaku usaha yang masih kesusahan mempertahankan eksistensi usaha dan mengembalikan modal yang hilang sepanjang pandemi. Jika terus berlanjut, kondisi tersebut hanya akan memberikan beban tambahan bagi mereka. ”Makin sulit untuk recovery,” imbuhnya.
Kondisi lebih baik diharapkan mulai terjadi dalam tiga bulan kedepan. Tepatnya menjelang dan selama perhelatan event internasional MotoGP di Mandalika. Momentum ini diharapkan dapat memperbaiki omzet dan kondisi para UMKM. Mulai dari sektor olahan makanan dan minuman, hingga berbagai produk ekonomi kreatif bisa dipasarkan pada wisatawan. Apalagi jika bisa bekerja sama dengan pengusaha hotel dan restoran terkait lokasi lapaknya agar lebih nyaman dikunjungi para tamu.
”Tentu kita banyak berharap sama MotoGP ini bisa membantu para pengusaha lokal,” ujar Sudirman, pemilik UMKM Dodol dan Rumput Laut Warisan. (eka/r9)
Editor : Galih Mps