Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wacana Minyak Goreng Curah Dihapus, Pedagang Berharap Tidak Terlaksana

Baiq Farida • Selasa, 14 Juni 2022 | 15:14 WIB
BAKAL DICABUT: Artinah, salah satu pedagang minyak goreng curah di pasar tradisional Pagesangan, Kota Mataram, Selasa (14/6/2022). Pedagang berharap minyak goreng curah tak dicabut pemerintah.
BAKAL DICABUT: Artinah, salah satu pedagang minyak goreng curah di pasar tradisional Pagesangan, Kota Mataram, Selasa (14/6/2022). Pedagang berharap minyak goreng curah tak dicabut pemerintah.
MATARAM-Belum tuntas persoalan harga minyak goreng, pemerintah kembali berencana bakal menghapus minyak goreng curah secara bertahap. Sebagai gantinya, minyak goreng curah akan diedarkan dalam bentuk kemasan sederhana.

Pedagang sembako di pasar tradisional Kota Mataram menyayangkan, jika rencana pemerintah yang akan menghapus peredaran minyak goreng curah terlaksana.

Pedagang menilai, kebijakan tersebut kurang tepat. Lantaran minyak goreng curah paling banyak diburu masyarakat terutama oleh para pelaku UMKM.

"Banyak laku minyak goreng curah karena harganya juga lebih murah. Misalnya minyak goreng kemasan paling banter satu, dua botol (liter) yang laku. Lalu pemerintah mau hapus (minyak goreng curah, red) kita mau jual apa," keluh Artinah salah satu pedagang minyak goreng curah di Pasar Pagesangan, Selasa (14/6/2022).

Perbedaan harga yang tinggi mencapai Rp 5 ribu per liter, sambungnya, diduga menjadi alasan kuat masyarakat jauh lebih memilih minyak goreng curah dibandingkan dengan minyak goreng kemasan.

Meski secara kualitas minyak goreng curah juga rendah. Masyarakat tidak ambil pusing, terpenting masih bisa dijangkau dengan daya beli mereka.

"Ya perlu dipertimbangkan (penghapusan minyak goreng curah), masalahnya minyak goreng curah masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat menengah ke bawah," ungkapnya.

Senada, Halimatul Ilmi salah satu pedagang gorengan di Pagutan, Kota Mataram mengaku, sangat memberatkan pelaku usaha makanan seperti dirinya jika minyak goreng curah dihapus. Terlebih ditengah lonjakan berbagai bahan pangan lainnya seperti cabai rawit, bawang merah, telur ayam dan daging ayam.

"Walaupun mahal (minyak goreng kemasan), mau tidak mau harus beli karena minyak goreng bahan penting jualan saya. Untung kita gak seberapa dibanding harga minyak goreng," tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB H Fatturahman mengatakan, rencana penghapusan minyak goreng curah di pasaran belum final. Saat ini masih tahap analisa oleh pemerintah pusat.

Namun demikian, program tersebut diharapkan mampu menciptakan ketersediaan dan harga minyak goreng kemasan yang bisa dijangkau oleh masyarakat.

"Belum tahu (penghapusan minyak goreng curah, red) masih tahap perhitungan dan sebagainya pemerintah pusat. Tetapi ujungnya bagaimana menciptakan ketersediaan dan harga yang terjangkau oleh masyarakat," terangnya.

Adapun yang menjadi persoalan besar pada minyak goreng, sambung Faturrahman, adalah ketika produk atau komoditas tersebut tidak ada. Sehingga itu akan mempersulit masyarakat.

Disisi lain, beralihnya minyak goreng curah dan diganti dengan minyak goreng kemasan diyakini bisa jadi untuk memicu industri curah untuk dimanfaatkan oleh industri nasional.

Artinya, ketika minyak goreng curah dikemas menjadi kemasan sederhana tentu dari sisi harga minyak goreng kemasan akan lebih bersaing.

Sebab sebagaimana hukum pasar, ketika suplai banyak maka akan diikuti dengan penurunan harga barang. Begitupula sebaliknya, ketika pasokan rendah dan permintaan tinggi berdampak pada tingginya harga produk atau komoditas tertentu.

"Diharapkan bahan minyak goreng curah ini bisa dimanfaatkan oleh pabrik dalam negeri untuk memproduksi minyak dalam kemasan. Sehingga memberikan dampak dari sisi ketersediaan dan harga," pungkas mantan Kepala BKD NTB ini. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida
#Minyak Goreng Curah #Penghapusan Migor Curah