Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Serabi Laklak Makanan Legendaris, Mau?

Galih Mps • Rabu, 1 Februari 2023 | 18:30 WIB
KUDAPAN TRADISIONAL: Baiq Karmah mengangkat beberapa serabi lak lak yang sudah matang dari atas tungku, belum lama ini. Lapaknya kerap menjadi langganan Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB untuk hadir dalam berbagai kegiatan di sana. (Dewi/Lombok Post)
KUDAPAN TRADISIONAL: Baiq Karmah mengangkat beberapa serabi lak lak yang sudah matang dari atas tungku, belum lama ini. Lapaknya kerap menjadi langganan Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB untuk hadir dalam berbagai kegiatan di sana. (Dewi/Lombok Post)

MATARAM-Siapa yang tidak kenal serabi, jajanan pasar tradisional asli Indonesia yang begitu tersohor. Jajanan ini banyak ditemukan di masing-masing daerah Indonesia dengan bentuk dan rasa serta cara penyajiannya.


Salah satunya adalah serabi laklak tradisional khas Kabupaten Lombok Timur. Kue tradisional ini masih bertahan dan banyak ditemukan di berbagai tempat di Lombok, seperti buatan Baiq Karmah yang berjualan di Jempong, Kota Mataram.


Baiq Karmah menuturkan, untuk membuat Serabi Laklak Khas Lombok Timur ini, bahan yang dibutuhkan adonan tepung beras. Kemudian santan kelapa, serta gula aren untuk varian rasa. ”Yang original ini yang warnanya putih ya, gurih dan asin. Sedangkan serabi kecoklatan itu kita tambah gula aren sebagai varian rasa. Tidak ada tambahan kelapa parut atau gula cair di atasnya,” terangnya.


Selanjutnya, wanita paruh baya itu menuangkan adonan tepung beras sedikit demi sedikit ke dalam wadah tungku yang terbuat dari tanah. Untuk proses pematangan, ia menggunakan kayu bakar agar memberikan aroma khas tersendiri. ”Aroma dari api tungku ini juga yang membuat serabi masih digemari,” tambah wanita asal Lotim ini.


Selama proses pembuatannya, Baiq Karmah tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan. Selain itu, untuk ukuran dirinya membuat ukuran sedang dan serabi laklak dijual dengan harga Rp 10 ribu per porsi. ”Kalau harganya kita jual Rp 10 ribu per porsi, isinya delapan. Dalam sehari bisa laku 40 hingga 50 porsi,” jelasnya.


Terpisah, Ahmad Yani, seorang penikmat Serabi Laklak mengatakan, dia gemar karena menganggapnya sehat dan enak. ”Ini makanan legendaris sejak zaman Belanda, dan untungnya masih bisa dipertahankan sampai sekarang,” ungkapnya.


Yang disukainya, serabi laklak tidak menggunakan pemanis buatan. ”Gula aren yang digunakan ini berbeda. Paling enak gula aren dari Desa Langko, rasa manisnya itu beda. Itu yang membuat serabi laklak tidak bisa dijumpai di mana pun termasuk rasanya,” ujarnya.


Bagi pembaca yang berada di Mataram, bisa menjumpai panganan ini di Jalan Majapahit samping Taman Budaya, Taman Udayana dan di Jempong. (ewi/r9)

Editor : Galih Mps
#serabi