Salon Dende Mataram kini sudah berjalan hampir 35 tahun. Sebuah usia yang tak sebentar.
NURUL HIDAYATI-MATARAM
Siang hari itu, Owner Salon Dende Donik Hardiani tampak sibuk. Dia menyiapkan perlengkapan tata rias dan baju untuk sewa berkegiatan tema lokal. Di sela-sela kegiatannya tersebut tersebut secara mendetail ia persiapkan barang yang harus dibawa. Satu-satu alat mulai ditata di tempat dan baju daerah juga sudah diletakkan di tempat penyimpanan.
Dalam menunggu waktu jemput pemesan jasa kecantikan dirinya, Donik menyempat waktu berbincang dengan Lombok Post di sela kesibukannya tersebut. Ia pun memulai menceritakan bisnis yang dirintis mulai tahun 1988 silam. ”Modal awal saya sangat minim dari garasi hanya modal sepasang baju,” kata wanita berhijab ini.
Berbekal keinginan untuk maju, akhirnya dia mencoba kursus di Salon Julia di Mataram dan kursus di Jawa tepatnya Bu Tinuk Jogja. Ia bergerak dengan ketekunan menjalankan dan sabar juga semangat. ”Waktu itu Salon Dende sangat terkenal bahkan manten hampir tiap Minggu kita jalani,” terangnya.
Tetapi bisnis yang dijalani bukan salon saja kala itu. Bisnis salah satu produk dari Perancis yang membuat bisa makin maju dengan kisaran omset Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar dengan bonus untuk keluarga hampir Rp 75 jutaan waktu. Bonus inilah yang menyebabkan salon dan bisnis berkembang dengan sistem sharing buget. ”Artinya saling menutupi dari segi keuangan. Karena peluang masih mudah, saingan nggak ada juga, kami punya bisnis di atas angin,” terangnya.
Bisnis keluarga yang dijalankan waktu itu berdiri bisnis center (BC) lalu kemudian BC Dende. BC Reza sampai mencetak tujuh BC seluruh NTB. ”Kami menjadi pioner bahkan saya bersama keluarga mendapat reward ke beberapa negara dunia,” kenangnya.
Bisnis salon tetap dikembangkan, seperti penyewaan kostum. Ini juga belum fokus hanya sebagai sambilan. Dikarenakan saat itu masih fokus dengan rias Jawa, Sasak, dan moderen. ”Disaat saya berkembang dengan pesat saya, waktu itu sering diundang mengisi beauty class di desa-desa di Mataram. Disitulah saya terketuk hati saya karena pesertanya banyak anak-anak remaja, ibu muda yang menganggur,” jelasnya.
Maka tercetuslah membuat lembaga. Ia pun mencoba membuat LKP Dende, Juni 2007. Respons Pemerintah Kota Mataram kala itu sangat baik. Mulailah banyak program dilakukan dari dinas sosial tenaga kerja. Berjalannya waktu, ia menemukan bisnis yang menjanjikan. ”Saya mendalami spa sebagai materi pembelajaran sampai akhirnya berdiri LKP Dende dan mencetak hampir 1.300 orang,” imbuhnya.
Lulusan Dende menyebar ke seluruh NTB bahkan ke luar negeri. Ada juga yang menjadi asesor di bidang spa, tata rias, dan lainnya. Itu menjadi modal kuat untuk bisa maju dan bertahan seperti saat ini. ”Menurut saya tips yang bisa membuat bisnis bertahan adalah menyenangi pekerjaan, memahami kebutuhan daerah kita, dan pendekatan kepada masyarakat. Termasuk memahami yang lagi diminati, tetap profesional dalam menjalankan pekerjaan,” tegasnya.
Ia pun menyarankan milenial yang akan berbisnis jangan puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Harus terus belajar, tetap jadi diri sendiri, pribadi yang sederhana. Terutama tetap punya prinsip, punya ciri khas sendiri.
Tantangan untuk sekarang jangan gaptek. Harus pintar menggandeng anak muda, karena anak muda pasti punya wawasan dan kreativitas yang tinggi. ”Dukungan orang terdekat sangat kuat. Tanpa ada support, semangat dari suami, anak, mantu, dan cucu tiada akan bisa bertahan seperti saat ini,” jelasnya.
Kini, pengembangan bisnis lainnya ada LKP Dende, Salon New Dende, Tanah Maik Dende, dan Villa Dende. ”Terima kasih kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa, saya masih bisa bertahan dalam usia 60 tahun dan terima kasih kepada Keluarga Dende dan suami tercinta Sukariadi yang selalu mendukung berjuang,” kata dia. (*/r9)
Fun fact Salon Dende
- Sudah Berusia 35 tahun
- Kisaran omset Rp 100 juta-1 M
- Sudah latih 1.300 orang