Owner The Hungry Sushi Mar'atus Solihah, mengadaptasi kuliner khas Jepang itu dengan cita rasa lokal. Sehingga bisa lebih diterima lidah masyarakat di berbagai kalangan. ”Sushi adalah salah satu makanan Jepang paling terkenal dan jadi favorit banyak pecinta kuliner,” ungkap Mar’atus Sholihah, seorang ibu rumah tangga dua anak ini.
Mara sapaan akrabnya, merintis The Hungry Sushi pada tahun 2017 silam. Berbekal hobi memasak dan mengulik berbagai konten dapur di dunia maya, Mara berhasil mengkreasikan sushi Jepang versi lidah Lombok.
Mara menuturkan, sushi yang dibuat olehnya memadukan aneka rempah-rempah yang akrab dengan lidah masyarakat lokal. Ia ingin menyajikan sushi yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. ”Sushi cenderung dihindari banyak orang karena berbahan mentah. Kami menyajikan sushi versi halal. Di mana bahan-bahan utamanya, seperti ikan, diolah secara matang,” terangnya.
Namun bila ada pelanggan yang lebih berselera dengan sushi bahan mentah sebagaimana umumnya di Jepang, menu tersebut tetap bisa disajikan. ”Kita sajikan juga (versi mentah),” imbuh Mara.
Menyoal kisaran harga, sushi yang disajikan Mara terbilang terjangkau. Mulai dari Rp 20-30 ribuan. ”Tagline kami adalah Semua Bisa Makan Sushi,” kata wanita kelahiran Jakarta itu.
Mara menuturkan, saat ini The Hungry Sushi memiliki enam cabang yang menjangkau hampir seluruh pulau Lombok. Mara bahkan berencana akan membuka cabang di Kota Bima dan Jakarta, untuk membuktikan kuliner buatannya dapat bersaing dalam level yang lebih luas. ”Brand itu baru bisa dikenal secara nasional jika sudah ada di Jakarta yang merupakan pusat industri. Sedangkan di Kota Bima, saya melihat kondisi perekonomian disana tak jauh beda dengan Kota Mataram,” ungkap Mara.
Memiliki enam cabang ini, diakui Mara bukan hal yang mudah. Berbinis di bidang kuliner memang cukup menantang karena banyaknya pesaing. Meski pun makanan Jepang khususnya di Lombok belum banyak dikenal, tetapi persaingan cukup ketat dari sisi kuliner.
Namun satu sisi peluang bisnisnya menjanjikan karena menyajikan cita rasa lokal. Serta ingin menepis anggapan orang bahwa tidak selamanya sushi itu identik dengan kata mahal. ”Alhamdulillah animonya dari masyarakat cukup bagus, sejak awal buka hingga sekarang,” imbuhnya.
Memulai bisnis kuliner ini, kata Mara, diawali dengan pilihannya resign dari pekerjaan di bidang pelayaran. Ikhlas melepas jabatan dengan gaji yang sangat menggiurkan dijamannya.
Memilih hengkang sebagai pekerja kantoran, Mara justru mendapat cibiran dari keluarga. Mereka menganggap bekerja kantoran dinilai lebih pasti mendapat penghasilan. Lain cerita sebagai pengusaha. ”Tetapi, dengan cemoohan itu jadi motivasi dan saya buktikan usaha kian berkembang. Sekarang omsetnya bisa dua digit, lebih besar sebagai pekerja di pelayaran dulu,” ungkapnya sembari tersenyum.
Bermodalkan sisa pesangon saat bekerja digunakan Mara memulai usaha. Meski tidak besar, Mara akui persoalan modal kerap jadi kendala dalam usaha kuliner. ”Ditambah saya pakai uang belanja dari suami, setiap hari saya sisihkan kemudian saya belanjakan bahan-bahan dan peralatan. Profitnya itu saya pisahkan untuk investasi di sini,” kata dia.
Sebelum memiliki outlet pertama di kawasan Pagutan, Kota Mataram, ia hanya menerima pesanan untuk dibawa pulang atau take away. Lambat laun usahanya disukai pelanggan dan membuahkan hasil dengan berdirinya satu outlet kemudian bertambah lima outlet.
Menjadi pebisnis kuliner, terlebih tak ada background, Mara tak segan kembali belajar dengan mengikuti beberapa kali pelatihan wirausaha baik secara gratis maupun berbayar.
Tak hanya itu saja, beberapa kali mengikuti kegiatan di bidang kuliner dan program bagi UMKM. Salah satunya Bedakan (Bedah Desain Kemasan) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kemudian mengikuti kegiatan dari ICSB wirausaha muda NTB, hingga mengikuti program usaha mandiri dari perbankan. ”Saya lupa tahunnya, saya ikut mentoring dari nutrifood bersama 12 usaha seluruh Indonesia. Dari Lombok ada dua terpilih The Hungry Sushi dan Moringa produk kelor,” kenangnya.
Seiring berkembang usaha bisnisnya, Mara berkeinginan ketrampilan karyawan yang bekerja terus berkembang. Ia lebih memilih memberdayakan karyawan dari sekitar tempat tinggalnya. ”Terpenting dia mau bekerja keras, berlatih tingkatkan skill,” pungkaa Mara. (ewi/r9) Editor : Baiq Farida