Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sate Rembiga Sinaseh: 35 Tahun Lalu Hanya Bermodalkan Awal Rp 125 Ribu

Galih Mps • Rabu, 1 Maret 2023 | 19:30 WIB
NIKMAT: Owner Sate Rembiga Sinaseh Hj Sinaseh menunjukkan satu porsi sate rembiga yang dijualnya di Jalan Raya Rembiga tepatnya Jl DR Wahidin Rembiga, pekan lalu.(NURUL/LOMBOK POST)
NIKMAT: Owner Sate Rembiga Sinaseh Hj Sinaseh menunjukkan satu porsi sate rembiga yang dijualnya di Jalan Raya Rembiga tepatnya Jl DR Wahidin Rembiga, pekan lalu.(NURUL/LOMBOK POST)

MATARAM-Merintis usaha di kawasan Rembiga, Kota Mataram sejak 1988, Sinaseh sempat diusir pemilik lahan tempatnya berjualan. ”Sekarang sudah bisa beli lahan yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya,” kata Owner Sate Rembiga Sinaseh Hj Sinaseh mengenang masa awal merintis usaha.


Selepas disuruh pergi dari lahan tempatnya berjualan, ternyata pemilik lahan juga membuka usaha serupa di sana. Bahkan sejumlah karyawannya di ambil, sehingga otomatis menu yang ditawarkan sama. ”Tapi tetap saja rasanya berbeda, dan pelanggan di saya tetap ada, ini jalan Allah,” tutur wanita berusia 54 tahun tersebut.


Dalam sehari produksi sate yang dibuat tergantung tamu yang datang. Saat ramai bisa mencapai 200 kilogram produksi sehari. ”Bahkan pernah dalam sehari produksi 300 kilogram terbanyak dengan 10 ribu tusuk sate rembiga,” terangnya.


Harga sate per porsi untuk 10 tusuk sate rembiga berubah mengikuti perkembangan zaman. Pada tahun 1988 dulu, harga per porsi Rp 1.250, sedangkan saat ini Rp 25 ribu. Kenaikan itu bertahap dari harga per tusuk Rp 125 hingga Rp 2.500. Sedangkan untuk modal awal jalankan bisnis ini tahun 1988 saat itu mengeluarkan anggaran sebesar Rp 125 ribu untuk beli daging dan bumbu-bumbu olahan sate rembiga Sinaseh. ”Setelah memiliki lahan sendiri jadi bisa mengembangkan pasar yang lebih luas,” tuturnya.


Untuk menjaga cita rasa tidak berubah, dirinya selalu wajib turun mengawasi produksi. Dirinya pun dulu dibantu hanya dengan tiga orang karyawan, kini dibantu 40 orang. ”Tambahan berbagai menu pilihan pun kini disajikan, tidak hanya sate olahan daging dengan bumbu sate rembiga. Namun disiapkan juga sate ayam dengan bumbu olahan sate rembiga,” imbuh wanita yang memiliki empat orang anak dan delapan cucu itu.


Awal mula nama sate rembiga muncul dikarenakan kawasan tempat menjual ini berada di Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.


Usahanya semakin terkenal kala momen gempa Lombok 2018. ”Banyak tamu luar membawa bantuan ke Lombok. Usai salurkan bantuan itu langsung mampir ke Sate Rembiga Sinaseh dan melariskan jualan sate rembiga ini,” ujarnya terkait salah satu momen yang mendongkrak penjualan.


Saat ditanya mengapa tidak membuka cabang, dikatakan dirinya ingin membuat pengunjung penasaran. ”Sebenarnya banyak yang tawarin, tapi saya tidak mau,” jelasnya.


Namun pihaknya pernah ikut beberapa pameran, seperti di Senayan, Jakarta yang diikuti anaknya selama beberapa hari. ”Selama tiga hari pameran, awalnya bawa 6.000 tusuk tetapi habis langsung. Karena habis maka langsung buat di tempat pameran juga sebanyak 3.000 tusuk,” ujarnya.


Menu andalan yang ditawarkan mulai dari sate rembiga dan bebalung. Ditambah pelecing dan olahan sayur lainnya. ”Sate Rembiga dan bumbu padang, rempah-rempahnya beda jauh. Ada beberapa tamu yang datang mengira bumbunya sama, tapi pasti jelas lain,” kata dia. (nur/r9)


Fun fact
Editor : Galih Mps
#Sate Rembiga