SEMPAT berprofesi sebagai seorang honorer membuat Baiq Liana Tungga Dewi harus memutar otak mencari tambahan penghasilan. Dia pun membuka usaha warung makan ayam kampung bakar.
Semua itu bermula dari kerja bersama keluarganya untuk cabut bulu ayam. ”Sebenarnya yang jualan makanan pertama itu ibu saya pas di lokasi RS Mandalika menjual nasi campur pakai ayam kampung,” kata Lian, panggilan akrab wanita berhijab ini.
Dikala itu pun keluarganya hanya menjual ayam kampung bersih siap olah. Ayam kampung ini diantarkan ke warung-warung makan, namun dia belum buka warung makan sendiri. ”Saya pun punya ide, saya saja yang jualan ayam kampung pinggir jalan,” terangnya.
Ia pun berjualan di samping sang ibu, yang saat itu hanya menawarkan ayam yang sudah dibakar di pinggir jalan Sengkol tersebut. Keterpaksaan membuatnya harus cerdik melihat peluang. Pernah suatu saat, tak ada lagi stok beras di rumahnya. Itu karena honornya sebagai honorer tidak seberapa. Saat itu pun itu mulai berpikir usaha apa yang bisa dijalankan sambil mengajar dan menjaga satu anaknya. ”Saat itu saya pun berpikir karena ibu mengambil ayam saja untuk diolah lauk nasi. Dikarenakan pada lokasi terdekat hanya menjual ayam kampung segar siap potong,” tuturnya.
Wanita lulusan D3 PGSD tersebut langsung berpikir mengapa tidak dirinya menjual ayam kampung itu langsung. Awalnya dia memulai hanya dengan ayam bakar saja. Namun lamban laun banyak juga yang minta makan langsung ditempat. ”Saya menyiapkan warung makan kecil dengan dua berugaq. Dengan berjalannya waktu, berugaq yang sekarang sudah ada sembilan,” terangnya.
Menu yang disajikan sama seperti pada lesehan umumnya. ”Namun lauknya hanya menawarkan ayam kampung bakar bumbu khas yang saya buat tanpa mengubah rasa asli dari ayam bakar tersebut,” tambahnya.
Bisnis yang sudah dijalan sejak tahun 2015 ini perlahan mengubah ekonominya. Ia pun berhenti menjadi guru honorer dan fokus menjalankan bisnis ayam bakar ini. ”Semenjak ada RS Mandalika, kunjungan penikmat ayam bakar Bu Lian terus bertambah. Bahkan biasanya yang datang ke rumah sakit makannya langsung di tempat saya ini,” ujarnya.
Dia lantas mengingat momen jualan pertama. Kala itu paling banyak dia bisa menjual 10 ekor perhari. Sedangkan saat ini bisa seratus lebih setiap hari. Bahkan saat akhir pekan bisa 300-400 ekor sehari.
Harga yang ditawarkan tergantung ukuran ayam kampungnya. Kisarannya, Rp 50 ribu, Rp 60 ribu, Rp 75 ribu, hingga Rp 80 ribu yang paling besar.
Sambal mentah plus terasi, sayur kelor bening, lalapan, gorengan tempe tahu, pelecing, adalah contoh menu khas yang selalu ada di tempatnya.
Salah satu momen bahagianya adalah kala direkrut RS Mandalika mengajak Gubernur NTB H Zulkieflimansyah makan di sana belum lama ini. Semenjak itu pengunjung terus meningkat. ”Kuncinya dalam membuka usaha baru, cari usaha yang tidak ada di lokasi sekitar kita. Maka itu akan cepat dikenal masyarakat,” imbuhnya membagikan sebuah tips. (nur/r9)
Editor : Galih Mps