MATARAM-Badan Pusat Statistik (BPS) NTB akan menggelar Sensus Pertanian 2023, dimulai 1 Juni hingga 31 Juli. Sensus Pertanian ini digelar setiap 10 tahun sekali, dan tahun 2023 ini tahun ketujuh penyelenggaraannya. ”Salah satu manfaatnya bisa diperoleh data perubahan perusahaan sektor bidang pertanian ini,” kata Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Senin (29/5).
Sensus Pertanian 2023 akan mencakup tujuh subsektor. Yaitu tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, perikanan, peternakan dan jasa peternakan. Responden dalam ST pertanian mencakup tiga jenis usaha pertanian. Yaitu usaha Pertanian Perorangan (UTP), Usaha Pertanian Lainnya (UTL), dan Usaha Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB).
Ketiganya merupakan representasi dari pelaku usaha pertanian dari yang skalanya kecil hingga besar. Terutama dari yang mengusahakan tanaman pangan hingga jasa pertanian. ”Data yang dikumpulkan dari perorangan atau sektor rumah tangga, kelompok tani, maupun perusahaan juga badan usaha,” tambahnya.
Ia menjelaskan, pertanian mengambil peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB. Terdata pertanian berkontribusi paling besar kurang lebih 21 persen ke daerah, baru ada perdagangan dan lainnya. ”Pertanian sangat memengaruhi dalam menopang perekonomian NTB,” tambahnya.
Bidang pertanian ini sangat strategis, jadi membutuhkan data yang strategis pula untuk menopang hal tersebut. Sensus Pertanian akan menerjunkan 4.447 tenaga survei di NTB.
Kadis Pertanian dan Perkebunan NTB H Fathul Gani mengatakan data pertanian ini sangat penting. Salah satunya untuk memastikan produktivitas pertanian yang ada di NTB. Ada beberapa komoditas unggulan yang memerlukan data untuk bisa disinkronkan. ”Seperti halnya jagung dan komoditas lainnya. Melalui sensus ini akan diketahui juga luas tanam, luas panen, dan total produksi pertanian komoditi yang ada di NTB,” terang dia. (nur/r9)
Editor : Galih Mps