Terbukti, produk lokal ini masih diekspor ke berbagai negara. ”Bicara soal perkembangan gerabah saat ini, kondisinya sekarang tetap jalan proses jualannya,” ujar pemilik UKM Pusaka Gerabah H Abdul Aziz Zuhdi, kemarin (12/9).
Penjualan produk gerabah di UKM di Lombok Timur ini hampir ada setiap hari. Hal ini dikarenakan saat ini masih dalam high season. Hampir setiap hari ada tamu luar negeri yang berkunjung ke store UMKM miliknya.
Aziz membeberkan, di beberapa tahun belakang, penjualan produk gerabah memang menurun. Terutama ketika pandemi merebak, pembelinya sangat berkurang. Pada saat itu, pembeli gerabah adalah perkantoran.
”Seperti tempat cuci tangan dan lainnya,” bebernya.
Namun masa-masa sulit ini sudah bisa dilewati, meski belum sepenuhnya pulih. Produk lokal NTB ini mulai kembali diekspor ke luar negeri. Di UKM Pusaka Gerabah ini, ekspor saat ini dilakukan ke beberapa negara.
Seperti kawasan Timur Tengah, Selandia Baru, hingga Benua Afrika. ”Sekarang Alhamdulillah secara pribadi, karena kita beda-beda. Kebetulan saya bersama orang tua punya langganan luar negeri di beberapa negara, jadi kita tetap ekspor,” bebernya.
Dielaskan, setiap negara memiliki permintaan yang berbeda. Seperti negara di Benua Asia, lebih suka gerabah polos. Sedangkan Afrika dan Selandia Baru lebih suka gerabah abstrak atau tidak beraturan.
”Jadi kami menerima semua pesanan sesuai permintaan tamu, dan kami siap layani,” kata Azis.
Dirinya membeberkan, pihaknya bisa mengekspor gerabah hingga satu truk per sekali kirim. Produk ini dikirim terlebih dahulu ke Bali untuk selanjutnya dikirim menggunakan kontainer. Pengiriman ini bisa dilakukan hingga tiga kali dam sebulan, tergantung pesanan. ”Ekspor ini seharusnya langsung dari Lombok,” ucapnya.
Hal ini diakui Azis sudah disampaikan ke Pemprov NTB. Pengiriman langsung dari Lombok ke luar negeri dinilainya bisa memberikan keuntungan pada NTB, bukan provinsi lain. ”Di sana nanti tertuang nama Lombok, NTB. Untung UMKM tidak ada, tapi ada income untuk daerah dengan pola ini,” jelasnya.
”Sayangnya belum ada realisasinya hingga saat ini,”imbuhnya.
Berbicara soal transaksi penjualan ekspor tersebut, Azis menjelaskan belum ada kendala. sebab hal itu tergantung bagaimana UKM berkomunikasi dengan pelanggan.
Kendala yang terjadi justru ada pada produksi. Hingga saat ini produksinya masih dilakukan secara manual. Hal ini sedikit diperparah dengan berkurangnya jumlah perajin gerabah.
Saat ini, UKM Pusaka Gerabah menaungi 20 perajin gerabah. Sehingga untuk mengatasi kekurangan produksi, pihaknya meminta bantuan perajin di daerah lain. ”Saya pasti kerja sama dengan perajin Banyumulek untuk memenuhi kuota saat banjir orderan,” ujarnya.
”Harapan kami ada semacam inovasi mesin atau apa yang bisa lebih cepat produksi gerabah ini,” tandas Azis.
Selain diekspor, gerabah NTB juga dipasarkan melalui NTB Mall. Direktur NTB Mall Indah Purwanti Ningsih mengatakan, jumlah kerajinan gerabah yang masuk mencapai puluhan produk. Sebab jumlah perajin gerabah saat ini sudah tidak terlalu banyak.
Dikatakannya, perajin gerabah di NTB ini perlu didorong untuk melakukan inovasi mengikuti perkembangan pasar. Hal ini dinilai bisa membantu produk lokal NTB tersebut untuk meningkatkan penjualannya. ”Makanya inovasinya yang perlu kita dorong saat ini, karena setiap daerah itu memiliki gerabah. Di Bali juga ada,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Redaksi Lombok Post