LombokPost--Fast Courier menginisiasi kegiatan workshop bisnis, "Trik Jitu Panen Cuan di Tik Tok", di Mataram, Minggu (17/9). Workshop diikuti puluhan UKM NTB dalam rangka mengedukasi mereka menjual produk di aplikasi TikTok.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber ahli untuk membantu pelaku UKM memanfaatkan sosial media TikTok. Yakni Dosen Informatika Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya Hariadi Yutanto, dan Edukator TikTok untuk Seller dan Affiliate Bang Pen Channel. ”Saat ini lewat TikTok sangatlah bagus sekali digunakan sebagai media promosi,” ujar Ketua Panitia Workshop sekaligus Owner Fast Courier Ikha Dewi.
Dikatakannya, Fast Courier sebelumnya merupakan jasa delivery yang sudah berdiri sejak akhir 2015 lalu. Hanya saja, Fast Courier berfokus pada pelaku usaha yang memiliki produk lokal. Terlebih di NTB ini, ada banyak ragam produk lokal yang dihasilkan para UKM. ”Jadi kita inginkan agar bagaimana penjualan produk lokal ini bisa masif, tidak hanya jualan di tetangga saja,” sambungnya.
Produk-produk lokal yang dihasilkan harus bisa dikenal dan terjual di seluruh Kota Mataram, bahkan di seluruh NTB. Selama ini, banyak sekali pelaku usaha lokal mengeluhkan produknya susah terjual. Hal ini yang dicarikan akar permasalahan hingga solusinya. ”Apakah dari segi promosinya, atau memang dari ketidaktahuannya terhadap sosial media atau bagaimana,” terangnya.
Menurut Ikha, dari workshop bisnis ini diketahui para pelaku UKM sudah menggunakan media sosial. Namun hasilnya diklaim masih sama. TikTok saat ini sangat bagus digunakan sebagai media promosi usaha, karena Indonesia merupakan pengguna TikTok terbesar kedua di dunia. ”Pertanyaan apakah caranya sudah benar atau bagaiman, jika caranya sudah benar, maka seharusnya bagus,” katanya.
Pihaknya hadir memfasilitasi pelaku UKM NTB menjual produknya di TikTok. Selama ini banyak orang mengenal TikTok sebagai tempat berjoget dan susah menghasilkan uang. Padahal potensi mencari uang melalui TikTok sangat besar. ”Di sana kita bisa jadi reseller, affiliate, live streamer, hingga konten creator,” ujar Ikha.
Workshop bisnis ini, kata Ikha, baru bisa memfasilitasi 40 pelaku UKM. Dirinya berharap bisa terus melaksanakan kegiatan ini dengan jumlah UKM lebih banyak lagi. ”Saya sih, khususnya Fast Courier berharap bisa membawa produk lokal NTB ini bisa tembus hingga luar daerah dan dinikmati seluruh warga Indonesia,” harapnya.
”Kami juga bekerja sama dengan NTB Mall dan pihak lainnya untuk sharing masukan dan saran,” tandasnya.
Dosen Informatika Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya Hariadi Yutanto menjelaskan, dalam workshop tersebut dirinya menekankan cara promosi atau branding produk. Mulai dari hook atau pancingan, problem, solusi, benefit, hingga selling. ”Sebelum menampilkan di TikTok, kita harus memahami dulu konsep produk atau jasa yang dimiliki,” ujarnya.
Berbicara soal menghasilkan cuan di TikTok, perlu terlebih dulu memahami marketing, baru selling. Dalam marketing ada hook, problem, solusi, dan benefit. Sementara untuk selling, fokus pada call to action (CTA), bagaimana mempengaruhi psikologis calon audiens.
Dalam memasarkan produk di TikTok, UKM sering salah dalam pembuatan konten. Ketika membuat konten produk, mereka hanya menggunakan foto saja. Padahal produk tersebut seharusnya dijelaskan penjual. ”Jadi tidak membicarakan masalah perilakunya seperti apa, terus tidak dijelaskan juga kalau beli produknya itu dapatnya apa saja, sehingga (pemasaran,Red) jadi stagnan,” jelasnya.
Keuntungan yang diperoleh UKM ketika memahami TikTok dengan baik, paling tidak membuat jangkaun produk semakin luas. Hal ini terjadi ketika UKM mengetahui cara memposisikan pduknya hingga luar Pulau Lombok. ”Produknya akan semakin dikenal, ketika ada wisatawan datang, mereka sudah tahu tempatnya dari media sosial, jadi lebih efektif,” terang Hariadi.
”Untuk menghindari masalah di TikTok, UKM ini harus konsisten dan mengikuti semua aturan komunitas yang ada,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida