Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tenun Bayan Mulai Jadi Suvenir Aneka Kegiatan, Harga Mulai Ratusan Ribu Rupiah

Galih Mega Putra S • Rabu, 25 Oktober 2023 | 16:10 WIB
MENENUN: Salah seorang remaja Desa Bayan yang tengah membuat kain tenun Bayan, belum lama ini.(FERIAL/LOMBOK POST)
MENENUN: Salah seorang remaja Desa Bayan yang tengah membuat kain tenun Bayan, belum lama ini.(FERIAL/LOMBOK POST)

SEIRING dengan berkembangnya industri fesyen di NTB, menjadi momen menguntungkan bagi pelaku usaha tenun. Salah satunya, tenun Bayan di Lombok Utara.

Kain tenun Bayan, merupakan kerajinan khas dengan berbagai macam motif menarik. Kerajinan khas KLU tersebut cukup banyak diminati orang. Bahkan kerap dihadirkan dalam kegiatan besar nasional sebagai suvenir maupun dalam bazar.

Salah satu usaha lokal yang fokus pada produk tenun Bayan ini adalah UD Jajak Nganter. UMKM asal Lombok Utara ini menghasilkan berbagai jenis kerajinan dengan bahan dasar kain tenun. Salah satu yang paling populer, Jong Bayan atau penutup kepala untuk perempuan dalam acara sakral di Bayan.

Kain tenun Bayan dibuat oleh tangan-tangan terampil dengan memintal helai demi helai benang secara teliti. Menghasilkan kain dengan berbagai motif warna-warni yang menarik mata. ”Alhamdulillah, sekarang sudah ada harapan hidup penenun,” ujar Ketua kelompok penenun di UD Jajak Nganter Bayan, Denda Suria Sari.

Dikatakannya, usaha tenun Bayan ini sempat meredup pada gempa bumi 2018 lalu. Kemudian disusul dengan pandemi dua tahun setelahnya. Para perajin di UD Jajak Nganter hampir tidak memiliki pendapatan dari penjualan tenun. ”Benar-benar masa sulit,” sambungnya.

Pada 2019 lalu, para penenun Bayan ini dibina oleh UNESCO melalui program trauma healing. Pada saat itu, selain pihaknya ada dua kelompok lain yang juga dibina UNESCO. Yakni Kelompok Petung Bayan dan Nina Pacu Pringgasela Utara.

Selain pelatihan keterampilan mendesain motif, juga dibantu paket alat tenun gedogan, alat pintal benang, dan lainnya. Setelah pandemi mereda, pasar tenun Bayan mulai pulih perlahan.

Hal ini terbantu dengan adanya surat imbauan bupati KLU tentang penggunaan baju kombinasi tenun Bayan sebagai seragam. ”Ditambah lagi dengan selalu dipromosikan bapak wakil bupati Lombok Utara dengan menggunakan baju tenun di setiap acara,” bebernya.

Motif kain tenun Bayan ini beragam. Di antaranya motif jong, rejasa, lipak dan umbak kombok. Dari berbagai motif ini, paling diminati adalah motif jong. Bahkan sering menjadi suvenir dalam berbagai acara-acara penting di NTB. ”Kalau tenun untuk Jong Bayan itu ukurannya 45x45,” kata Denda.

Harga tergantung tingkat kesulitan motif yang dihasilkan. Juga tergantung pewarnaan yang digunakan. ”Semakin sulit motifnya maka lebih mahal harganya. Itu yang membedakan harga kain ini satu sama lainnya,” jelasnya.

Untuk tenun dengan warna sintetis dijual mulai dari Rp 300 ribuan. Sedangkan untuk kain tenun dengan warna alam, harganya Rp 800 ribuan hingga Rp 1 jutaan. ”Kami berharap ke depan, peminat tenun Bayan semakin banyak dan produk turunan tenun bisa menjadi suvenir di event-event besar lainnya,” harapnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #tenun bayan #KLU