LombokPost-Bank Indonesia (BI) NTB mencatat, hingga Oktober 2023 kebutuhan uang tunai (outflow cash) di NTB sebesar Rp 8,36 triliun.
Jumlah ini mengalami kenaikan 7,3 persen berdasarkan kalender tahunan (YoY).
Sementara untuk arus uang yang masuk ke BI (inflow) tercatat sebesar Rp 7,59 triliun.
Jumlah ini juga mengalami pertumbuhan 8,9 persen berdasarkan kalender tahunan.
Baca Juga: Ekonomi NTB Tumbuh, Pengangguran Terbuka Turun
Kepala Kantor BI Perwakilan NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, hal tersebut menggambarkan kebutuhan uang tunai cenderung meningkat.
Meski pun instrumen transaksi secara non tunai juga bertumbuh.
”Maka itu, menjadi kewajiban bersama menjaga fisik rupiah yang kita gunakan secara bijak,” ujarnya.
Dijelaskannya, meski uang didesain dan dibuat dengan teknologi terbaik, namun prilaku pengguna turut menentukan.
Hasil pengukuran Indeks Kelaikan Uang pada semester 1 2023 di NTB, mencatat indeks kelaikan berada di atas range uang laik edar berkualitas.
”Pengukuran dilakukan di Kota Mataram dan Kota Bima dengan responden ibu rumah tangga dan pelaku UMKM,” sambungnya.
Sejak 2022 lalu, BI melakukan penguatan pemahaman rupiah kepada masyarakat.
Baca Juga: Dukung Peningkatan Ekonomi, Bank BPD Bali Gelar Pekan UMKM di Mataram
Tidak terbatas pada mengenali keaslian rupiah, namun bagaimana peranan dan fungsi rupiah secara luas.
”Yakni dalam bentuk Edukasi Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah,” katanya.
Menurut Berry, melalui CBP Rupiah ini akan tumbuh pemahaman bagaimana mengenali keaslian rupiah.
Termasuk merawat fisik rupiah agar tidak cepat lusuh, dan menjaganya dari tindak pidana pemalsuan uang.
”Tidak hanya itu, edukasi CBP Rupiah memperkenalkan rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan negara, kewajiban penggunaan rupiah dalam bertransaksi dan dampaknya terhadap perekonomian,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Marthadi