LombokPost- Asmuni Hasan memiliki ambisi melakukan branding produk kopi asli Kabupaten Lombok Utara (KLU) hingga dikenal lebih luas. Tak heran, dia adalah penikmat setia kopi, sekaligus mantan pelaku pariwisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Hal ini menjadi salah satu pemicu terciptanya produk Bimbo Coffee. Pada 2014 lalu, pria yang akrab disapa Bimbo ini menjelajahi kawasan Monggal di Desa Genggelang.
Di sana terdapat pohon kopi yang berusia ratusan tahun, peninggalan orang China. Namun sayangnya, beberapa pohonnya sudah ditebang. Konon katanya, dijual untuk dijadikan bahan baku pembuatan patung.
Di sisi lain, harga jual kopi di kawasan ini juga sangat rendah. Para petani kopi ini kemudian dirangkul Bimbo dengan harga jual yang cukup menjanjikan. Pada 2020, Bimbo mulai melakukan produksi kopi dalam jumlah besar.
Bimbo benar-benar belajar secara detail dari orang yang kompeten dalam produksi kopi. Dirinya langsung membeli semua peralatan penunjang yang dibutuhkan. Seperti mesin sangrai kopi, mesin penggilingan kopi, hingga alat penyeduh kopi dari Vietnam.
Bimbo menjelaskan, ada seni dalam menikmati secangkir kopi. Untuk menyeduhnya saja, diperlukan kehati-hatian. Airnya dituang sedikit demi sedikit pada bubuk kopinya. Itu terus dilakukan perlahan hingga air kopi menetes ke dalam gelas. Tanpa gula, kata Bimbo itu baru benar-benar kopi. ”Untuk menikmati cita rasanya lebih baik diminum dalam keadaan hangat,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskannya, kopi sebenarnya memiliki nilai-nilai yang mesti diperjuangkan dalam membangun citra di hadapan penikmat. Nilai itu tergantung dari pengolahan hingga sampai ketika tersaji di atas meja. ”Itulah sebabnya di daerah pariwisata semacam Gili Trawangan, kopi Lombok dibanderol dengan harga mahal, hingga Rp 120 ribu secangkir kecil,” terangnya.
Menurut Bimbo, berbicara mutu kopi, dari mana pun asalnya sebenarnya tidak jauh berbeda. Artinya, masing-masing daerah memiliki wilayah unggulan berbudi daya tanaman kopi. ”Rasa kopi sangat bergantung pada lingkungan dan cara pengolahannya,” ujarnya.
Di KLU, terdapat beberapa kawasan yang memiliki areal yang cocok untuk menanam kopi. Termasuk kawasan Monggal, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, yang cukup terkenal sejak ratusan tahun lampau.
Bimbo mengaku cukup lama mempelajari teknik pembuatan kopi. Bahkan hingga sekarang, dia masih terus belajar. Setahap demi setahap dia mulai bisa membedakan olahan kopinya hari ini dibanding kemarin.
Bimbo pun melibatkan banyak pihak untuk merasakan kopi buatannya. Itulah mengapa setiap hari orang berbondong-bondong datang ke kediamannya. Mereka duduk di atas berugak yang dibeli ketika gempa KLU untuk menikmati sajian kopi Bimbo secara gratis.
Aktivis sosial di KLU ini memiliki obsesi untuk kopi buatannya bisa dinikmati berbagai kalangan. Mulai dari kalangan atas, menengah hingga kalangan bawah. Caranya, Bimbo menerapkan pola subsidi silang. Untuk kalangan atas harga kopinya tinggi, namun untuk kalangan bawah lebih murah.
Produksi kopi milik Bimbo ini sudah melanglang buana ke beberapa negara. Seperti Korea Selatan, Jepang, Irlandia dan lainnya. Saat ini, dirinya bisa memproduksi sedikitnya 75 kilogram kopi setiap 3-4 hari. Itu disesuaikan dengan kemampuan ”pabriknya” dalam berproduksi.
Dengan mengandalkan produk Bimbo Coffee, kopi olahannya diharapkan memiliki keterikatan dengan masyarakat setempat. Sebab, apa yang dilakukan tidak sebatas bisnis untuk mencari keuntungan. Melainkan juga mengembalikan kopi kepada masyarakatnya dengan kualitas yang terjaga. ”Per setengah kilogramnya saya jual Rp 60 ribu,” katanya.
Di sisi lain Bimbo berharap pemerintah memberikan jalan keluar bagi petani kopi. Salah satunya dengan cara menampung produksi melalui BUMD. ”Dengan cara ini, dari hulu ke hilir kopi akan terjaga mutunya dan masyarakat merasakan manfaatnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Rury Anjas Andita