Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Waduh, Harga Beras di NTB Berpotensi Naik Lagi

Galih Mega Putra S • Senin, 27 November 2023 | 18:05 WIB
HARGA SEDANG TAK BERSAHABAT: Stok beras yang ada di Gudang MRMP Sumbawa, beberapa waktu lalu.(FERIAL/LOMBOK POST)
HARGA SEDANG TAK BERSAHABAT: Stok beras yang ada di Gudang MRMP Sumbawa, beberapa waktu lalu.(FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Perum Bulog NTB bakal mendatangkan sekitar 17 ribu ton beras secara bertahap di akhir tahun ini. Jika hal ini tidak dilakukan, maka semua program bantuan pangan dan lainnya diklaim tidak akan bisa berjalan.

Imbasnya, harga beras di pasar-pasar tradisional pun diprediksi bakal berpotensi mengalami kenaikan signifikan. ”Potensi naik harga di pasaran itu jelas sekali, tidak bisa dihindarkan,” ujar Pimwil Bulog NTB David Susanto.

Beras Bulog yang ada di pasaran di kisaran 9-20 persen. Dengan perkiraan asumsi konsumsi sebesar 45 ribu ton per bulan.

Bulog NTB sendiri terus menyalurkan bantuan pangan kurang lebih 6.100 ton. Di tambah dengan beras SPHP rata-rata antara 2.000-2.400 ton. Artinya, 8.500 ton harus tersedia di gudang Bulog NTB. Jika beras ini tidak ada atau hilang di pasaran, tentu akan ada dampak yang ditimbulkan. ”Jika lebih dari 8.500 ton yang beredar, itu artinya punya swasta, nah kalau swasta tinggal hitung-hitungan, maka harga akan sangat cepat naik,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, kedatangan beras dari luar NTB ini diperuntukkan bagi penguatan stok. Hal itu tidak akan mengubah kenyataan NTB sebagai daerah dengan ketahanan pangan paling kuat di Indonesia. ”Toh kita datangkan hanya 17 ribu ton, dan kita juga pernah mengirim ke daerah lain,” terangnya.

Beras 17 ribu ton ini, kata David rencananya harus sudah datang di pertengahan Desember mendatang. Masuknya secara bertahap, antara 5.000 atau 10.000 ton dulu. Beras yang didatangkan ini untuk kebutuhan Januari 2024. ”Memang mendatangkan beras itu butuh waktu satu bulan, tidak bisa kita minta hari ini dan besok atau seminggu kemudian langsung datang,” kata David.

Disinggung mengenai konsekuensi jika tidak mendatangkan beras dari daerah lain, David menegaskan, seluruh program yang ada tidak bisa dijalankan. Baik itu bantuan pangan pada Januari 2024 kurang lebih 6.100 sampai 6.200 ton tidak bisa disalurkan. ”Seperti beras SPHP, tidak bisa Operasi Pasar (OP) karena tidak adanya barang atau stok beras,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#beras mahal #Beras #beras naik