LombokPost- Momen pemilihan umum (Pemilu) serentak 2024 tentu memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha percetakan. Hal ini lantaran setiap calon legislatif (Caleg) akan melakukan pencetakan sejumlah atribut politiknya. Mulai dari stiker, banner, spanduk, baliho, hingga kaos.
Namun rupanya momen pesta demokrasi rakyat kali ini dinilai berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Pemesanan untuk percetakan atribut politik diklaim mengalami pengurangan sekitar 30 persen yang berdampak pada omset. Hal ini diduga lantaran adanya regulasi mengenai kampanye yang membatasi jumlah penggunaan atribut politik.
“Untuk Pemilu kali ini memang pemesanannya agak kurang,”ujar pengusaha percetakan Alpha Project di Lombok Barat, Satria Efendi.
Dibeberkannya, biasanya dari jauh hari para Caleg sudah banyak memesan atribut politiknya. Namun kali ini, jumlah pemesanan justru berkurang cukup signifikan. Banyak dari Caleg maupun timsesnya ingin melakukan order, namun mereka takut belum bisa dipasang.
“Mereka takut balihonya belum bisa dipasang, makanya itu yang membuat pemesanan berkurang dibandingkan Pileg-Pileg sebelumnya,” sambungnya.
Disamping itu, saat ini banyak tahapan Pemilu yang mundur. Seperti seharusnya sudah bisa kampanye di awal Desember, diundur menjadi akhir Desember. Selain itu, banyak lagi aturan lainnya yang ikut andil berpengaruh pada usaha percetakan.
“Hal-hal seperti ini memang sangat berpengaruh pada usaha kami,” katanya.
“Kalau bisa digambarkan itu, ada penurunan sekitar 30 persenan dibandingkan Pemilu sebelumnya, dan ini rata-rata dirasakan juga oleh percetakan yang lain,” bebernya.
Dibeberkan Satria, di Alpha Project menerima pesanan stiker rata-rata 3.000 lebih per Caleg. Bahkan terkadang ada yang sampai 5.000 stiker. Sedangkan untuk spanduk, jumlahnya relatif. Secara akumulatif, ada pemesanan spanduk hingga 100 meter.
“Misalkan satu lembarnya itu ukuran 1x2 meter, maka bisa jadi 50 biji spanduk. Ada yang pesan sampai 500 meter, tergantung kondisi keuangan mereka,” terangnya.
Berbicara item atribut politik yang banyak dipesan saat ini, kata dia beragam. Di antaranya stiker, kalender, dan baliho. Sedangkan untuk baju, jumlahnya diakui Satria belum begitu banyak.
Untuk pesanan baju, pihaknya lebih selektif dalam menyajikan kualitas. Satria mengaku pihaknya harus tetap menjaga kualitas barang-barang yang diproduksi. Jika tidak, tentu akan berdampak pada pemesanan berikutnya.
“Baju jelek kalau disablon pasti akan rusak hasilnya, dan itu mempengaruhi. Makanya kalau baju itu kita beri yang standar, dan memang harganya juga cukup lumayan,” tandasnya. (fer)
Editor : Kimda Farida