Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belajar dari Taufik, Pengusaha Bakulan Makanan di Rasabou yang Bisa Hasilkan Rp 1,5 Juta Sehari

Galih Mega Putra S • Rabu, 3 Januari 2024 | 15:44 WIB
USAHA BAKULAN: Pengusaha bakulan makanan asal Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. (IST/LOMBOK POST)
USAHA BAKULAN: Pengusaha bakulan makanan asal Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost -Usaha bakulan aneka makanan ditekuni Taufikurrahman sejak akhir 2020 lalu. Dari omzet yang hanya ratusan ribu, kini berkembang menjadi Rp 1,5 juta per harinya. Bahkan kini, dirinya memiliki karyawan yang membantunya berjualan.

Sebelum berjualan bakulan, pemuda Desa Rasabou, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima ini awalnya berjualan kerupuk dan gorengan keliling. Hal itu dilakukannya tepat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Taufik memiliki tiga adik yang masih sekolah dan perlu dicukupi kebutuhannya. ”Awalnya, saya jual kerupuk dan gorengan keliling, tapi saya sempat kecelakaan ditabrak motor saat itu,” bebernya pada Lombok Post.

Kecelakaan itu berimbas pada minimnya pemasukan Taufik. Akhirnya, dia memutuskan banting stir jualan ayam bakar. Namun sayangnya, saat itu banyak ayamnya yang mati sehingga dia merugi sekitar Rp 2 jutaan.

Setelah berpikir keras, akhirnya Taufik memutuskan untuk tetap berjualan. Namun dengan jualan yang berbeda. Dirinya memutuskan untuk berjualan bakulan aneka makanan. Seperti berbagai jenis jajanan, bubur kacang hijau, kolak ubi, dan lainnya. Semua diproduksi langsung oleh Taufik sendiri. ”Jadi usaha bakulan namanya, karena memang kita jualan keliling, donat, roti kacang, roti sayur, bakpao dan lainya,” sambungnya.

Pada awal-awal jualan, omzet Taufik sekitar Rp 400-500 ribu per hari. Perjuangannya cukup berat lantaran dirinya harus berjualan sendiri. Adik-adiknya ikut membantu pada saat libur sekolah. Di samping itu, dirinya belum begitu terbiasa bahkan sempat malu dilihat teman-temannya. ”Tapi akhirnya saya bisa melewati itu, saya juga terus memotivasi adik-adik saya untuk semangat, makanya sekarang sudah terbiasa dan tidak malu,” bebernya.

Selain itu, jualan bakulan Taufik sempat tidak laku sekitar Rp 400 ribu lantaran hujan dan banjir yang terjadi di Kabupaten Bima. Dirinya sempat sedih karena itu namun tidak berlarut-larut. Sisa jualannya tersebut disedekahkan pria 31 tahun ini pada orang-orang yang membutuhkan. ”Alhamdulillah, kini usaha saya berkembang dengan baik, omzetnya sudah naik dua kali lipat,” katanya.

Bahkan kini, Taufik sudah memiliki partner jualan tetap sebanyak empat orang. Partner Taufik ini diupah Rp 30 ribu dari Rp 100 ribu jajanan yang laku. Dengan pola ini, bahkan banyak warga di sekitarnya yang tertarik menjadi partner jualan. ”Makanya dalam sehari bisa sampai Rp 1,5 juta hasil jualan,” ujarnya.

Berkat itu, Taufik bisa mencukupi kebutuhan adik-adiknya. Terutama adik perempuannya yang kini duduk di bangku SMK. Bahkan, Taufik juga bisa mengusahakan kebutuhan dana untuk keberangkatan dua adik laki-lakinya yang akan merantau ke Jepang. ”Saya jualan itu ke dinas-dinas, kantor-kantor, puskesmas, sekolah, bahkan hingga gudang Bulog,” kata Taufik.

”Saya berharap usaha saya ini bisa membuat dan memotivasi adik-adik saya untuk sukses ke depannya, agar membanggakan almarhum orangtua kami,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #omzet #Pedagang