LombokPost- Produk Kopi Robusta Rempek sudah tak asing lagi di telinga para penikmat kopi di Lombok. Produk kopi asli dari Desa Rempek, Kecamatan Gangga ini tidak hanya nangkring di hotel berbintang, tapi juga diekspor hingga ke luar negeri.
Produk ini dikembangkan oleh Ida Susiwanti dari kopi hasil panen petani setempat. Proses produksinya pun tidak sembarangan. Tiap biji kopi dipilah untuk menghasilkan tingkat kematangan tepat, rasa yang khas dan berkualitas.
Rasa khas Dayan Gunung (sebutan lain Lombok Utara) ini menjadikan Kopi Robusta Rempek banyak digemari penikmat kopi. Tak hanya penikmat kopi lokal, namun juga luar negeri. Hal ini terbukti dari banyaknya orderan yang masuk. ”Banyak penikmat kopi dari luar negeri yang memesan,” ujar Ida.
Perempuan berhijab ini mengatakan, luas tanam kopi di Rempek ini mencapai puluhan hektare. Pihaknya mengelola kelompok petani kopi dengan hasil mencapai 500 kilogram per hektare tiap panen. Dari hasil panen ini, telah dilakukan ekspor sebanyak 20 ton kopi per bulan sesuai permintaan buyer. ”Jenis kopinya adalah robusta. Diolah menjadi bubuk kopi dengan brand IKM Mentari,” sambungnya.
Selain menjual biji kopi, pihaknya juga menjual dalam bentuk bubuk. Ada beberapa produk kopi olahan yang dihasilkan. Di antaranya bubuk kopi robusta red cherry, kopi bubuk robusta Rempek original, kopi jantan tangguh, kopi jahe, dan lainnya.
Dirinya juga memberikan kesempatan pada konsumen atau pembeli untuk menentukan sendiri selera mereka dalam menikmati kopi. Kopi yang diroasting bisa dipesan dengan tingkat medium atau dark. ”Kami juga jual kopi yang sudah diroasting, pembeli bisa pesan tingkat roasting-nya sendiri, kami siapkan itu,” terangnya.
Dalam mengelola bisnis jual beli produknya, Ida memiliki banyak wawasan mengenai kopi. Mulai dari memproduksi kopi agar menghasilkan cita rasa enak, hingga proses memanen biji kopi yang baik. Hal itu kemudian diajarkannya pada para petani kopi di Desa Rempek. Tujuannya, menghasilkan kopi dan produk turunannya yang terbaik. ”Proses panen juga turut menentukan enak tidaknya kopi yang dihasilkan nantinya,” kata mantan PMI Malaysia ini.
Sambil mengajarkan petani kopi, Ida pun terus menambah wawasannya mengenai kopi. Dirinya ingin agar para petani kopi ini update dengan perkembangan zaman dan selera pasar saat ini. Untuk menghasilkan kopi robusta terbaik, proses panen harus dilakukan pada saat buahnya benar-benar matang. ”Kalau dipanen masih muda, tentu akan mempengaruhi kualitas rasa, jadi tidak enak,” ujarnya.
Berbicara soal harga, itu tergantung kelas kopi. Biasanya mulai dari Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogramnya. Kopi seharga Rp 150 ribu per kilogram ini biasanya merupakan kopi yang dipanen secara natural atau matang di pohonnya. ”Kopi dengan kematangan sekitar 90 persen ini tidak kita jual di pasar tradisional, biasanya di kafe, hotel, dan sejenisnya,” tandas ibu tiga anak ini. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida