Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BI NTB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi NTB 2024 Akan Lebih Baik

Galih Mega Putra S • Kamis, 4 Januari 2024 | 11:50 WIB
Berry Arifsyah Harahap. (Ferial/Lombok Post)
Berry Arifsyah Harahap. (Ferial/Lombok Post)

LombokPost- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB memproyeksi pertumbuhan ekonomi NTB di 2023 lebih rendah dari 2022 lalu. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi NTB pada 2024 ini diproyeksi akan lebih baik dari 2023.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap menjelaskan, pertumbuhan ekonomi 2023 lebih rendah lantaran dampak ekspor. Kinerja ekspor pada tahun itu mengalami penurunan lantaran lebih rendahnya produksi tembaga dan lambatnya perolehan izin ekspor.

“Perlambatan juga didorong rendahnya produksi pertanian akibat El Nino. Meski begitu, peningkatan investasi mampu menahan perlambatan ekonomi lebih lanjut,” jelasnya.

Pada 2024 ini, dirinya menilai perlu dilakukan dorongan pada peningkatan produktivitas dan hilirisasi pertanian. Sebab hal itu memiliki dampak besar pada kesejahteraan masyarakat NTB.

Menurut Berry, industri  yang memiliki kandungan teknologi menengah rendah dapat menjadi pilihan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB. Hal itu karena sesuai dengan karakteristik SDM di NTB dan mampu menurunkan kemiskinan, dan pengangguran yang cukup signifikan.

“Pengembangan Parawisata juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi NTB,” sambungnya.

Sebelumnya KPwBI NTB memperkirakan ekonomi NTB akan tumbuh pada kisaran 4,8-5,6 persen pada 2023. Sejumlah inisiatif dilakukan BI NTB, di antaranya mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi biaya melalui program Digital Farming dan Onboarding UMKM.

Kemudian mengoptimalisasikan daya saing komoditas ekspor non tambang. Melakukan pemulihan aktivitas ekonomi produktif yang berdimensi masyarakat dan UMKM secara end to end process, mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui hebitren dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui ketersediaan uang rupiah layak edar, meningkatkan dan memperluas transaksi menggunakan QRIS. Serta mendorong pertumbuhan kredit yang seimbang dan inklusif pada sektor-sektor prioritas

“Pada tahun 2022 lalu, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara akumuliatif mencapai 6,95 persen,” bebernya.

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya menambahkan, ekonomi NTB diperkirakan akan tumbuh dalam kisaran 1,5-2,3 persen. Sementara untuk tahun 2024, proyeksinya meningkat menjadi 3,3-4,1 persen.

Proyeksi ini sejalan dengan masih kuatnya Konsumsi Rumah Tangga. Kemudian tren perbaikan kinerja ekspor, serta dampak positif dari pelaksanaan Pemilu. Laju inflasi NTB pada tahun 2023 diprakirakan berada dalam target sasaran 3±1 persen.

“Akan lebih terkendali pada tahun 2024 dengan target sasaran 2,5±1 persen. Meski demikian, beberapa tantangan masih perlu diwaspadai,” terangnya.

Tantangan tersebut di antaranya, gejolak geopolitik global. Ini diidentifikasi sebagai potensi penyebab gangguan dari sisi pasokan dan dapat mendorong tekanan inflasi. Di sisi domestik, produktivitas hasil pertanian dihadapkan pada tantangan alih fungsi lahan.

“Termasuk upaya hilirisasi, khususnya pada komoditas tembaga, di tengah dinamika kebijakan pelarangan ekspor dan keterbatasan operasional smelter yang diperkirakan masih terbatas,” sambungnya.

Lebih lanjut, BI berkomitmen untuk memperkuat arah kebijakan ke depan dengan beberapa langkah strategis. Di antaranya, respon bauran kebijakan moneter serta koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi di NTB akan diteruskan dan diperkuat. Ini melibatkan optimalisasi anggaran belanja pemda dan sinergi melalui Gerakan Nasional Non-Tunai Indonesia (GNPIP).

Kemudian mendorong pengembangan UMKM potensial, termasuk UMKM berbasis syariah. Hal ini dilakukan melalui peningkatan produktivitas, dukungan pembiayaan, hilirisasi, digitalisasi, dan pendampingan pemasaran untuk memperluas akses pasar ekspor.

Langkah berikutnya, melibatkan akselerasi transaksi non-tunai dengan perluasan kanal digital. Hal itu diharapkan dapat mendukung efisiensi transaksi keuangan di NTB. Selanjutnya, bersinergi untuk memperkuat daya saing pariwisata daerah melalui diversifikasi atraksi, perbaikan amenitas, penguatan aksesibilitas, dan dukungan pada pelaku usaha yang mengutamakan prinsip keberlanjutan.

“Pimpinan daerah dan seluruh stakeholders dapat bersama-sama meningkatkan sinergi, kolaborasi, dan inovasi di tahun 2024. Hal ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi ketahanan dan kebangkitan perekonomian NTB yang maju melaju,” pungkasnya. (fer)

Editor : Rury Anjas Andita
#bi ntb #Ekonomi #NTB