LombokPost-Memasuki musim penghujan, produksi petani garam di Dusun Godo Desa Dadibou, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima mulai berkurang. Hal ini diperkirakan membuat harga jual beli komoditas bakal mengalami kenaikan.
”Kemarin-kemarin masih murah harganya, sekarang sudah masuk musim hujan bakalan mahal harganya,” ujar Mak Wia, petani garam asal Dusun Godo.
Dikatakannya, musim hujan sangat berpengaruh pada produksi garam para petani. Sebab dalam prosesnya, para petani mengandalkan sinar matahari. Jika terjadi hujan, apalagi dengan intensitas tinggi, para petani memutuskan tidak berproduksi sementara waktu.
”Makanya stok garam-garam ini akan berkurang,” sambungnya.
Mak Wia membeberkan, dirinya menjual garam dengan harga Rp 20 ribu per karung ukuran lima kilogram. Kadang, dirinya menjual sebesar Rp 50 ribu per tiga karung ukuran lima kilogram tersebut. Sedangkan untuk karung ukuran 100 kilogram, dijualnya seharga Rp 100 ribu.
”Ambil banyak semakin murah harganya,” kata perempuan berhijab ini.
Garam-garam tersebut dijual Mak Wia di dekat sentra tambak garam Dadibou, tepatnya di samping jalan raya lintas Sumbawa-Bima. Tak hanya dirinya, di sepanjang pinggir jalan raya tersebut juga berderet banyak jualan petani garam lainnya.
”Kalau musim hujan mahal sudah garam ini, karena memang musim hujan tidak bisa produksi seperti biasanya,” tandasnya.
Senada dengan Mak Wia, petani garam Godo lainnya Ikhsan mengatakan, untuk menghasilkan garam, petani harus mengeringkan petakan tanah selama sebulan. Kemudian air laut dialirkan dan dijemur di bawah sinar matahari secara langsung selama 6-8 hari. ”Nantinya air laut tersebut akan menguap sehingga akan menyisakan butiran- butiran kristal yang akan menjadi garam,” jelasnya.
Satu petak lahan bisa menghasilkan garam sebanyak 7-8 karung dengan ukuran 60 kilogram. Pada musim kemarau lalu, harga garam ini sempat mengalami penurunan drastis. Dari biasanya Rp 300-400 ribu per karung menjadi hanya Rp 30 ribu per karung. ”Tidak ada kendala selama produksi garam karena hanya membutuhkan tenaga dan air laut saja, harga anjlok pun sebenarnya karena panen serentak sehingga produknya melimpah,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida